jurnalpemerintahan.com - “Melemahkan perekonomian Masyarakat”.
Jumat 12 Juni 2016, Hari ini indonesia sudah masuk dalam nominasi 5 besar urutan negara dengan mata uang terlemah di dunia versi Forbes per April 2026.
Mata uang rupiah hari sedang pada kondisi yang tidak stabil terlihat jelas pada pelemahan mata uang rupiah di pengaruhi oleh sentimen suku bunga dan aktivitas spekulatif di pasar global, yang sangat berdampak pada biaya impor yang memicu penurunan daya beli pada masyarakat indonesia.
Melemahnya mata uang rupiah hari ini bahkan menyentuh di angka Rp:18.000 per USD juga memicu kenaikan harga produksi sehingga masyarakat lah yang paling terdampak sebagai konsumen, akibatnya masyarakat mengalami peningkatan biaya hidup.
Indonesia menjadi salah satu negara masih bergantung pada aktivitas impor bahan baku kemudian bila saat bahan baku naik maka biaya kepada konsumen juga naik sehingga terjadi inflasi. Terutama aktivitas impor bahan Bakar Minyak (BBM).
Sebanyak 40%-50% Indonesia masih mengimpor bahan bakar minyak (BBM) atau sekitar 1 juta barel perharinya untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Hal ini menunjukkan Kebutuhan konsumsi bahan bakar (BBM) nasional masih tergolong tinggi sedangkan produksi kilang domestik belum bisa memenuhi kebutuhan bahan bakar nasional yang mengharuskan indonesia harus menimpor minyak.
Samuel simatupang ketua cabang BPC GMKI Cabang Medan masa bakti 2026-2028 sangat menyayangkan hal ini terjadi apalagi tepat pada rabu kemarin tanggal 10 juni 2026 PT pertamanina Patra Niaga secara resmi mengumumkan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis pertamax dan pertmax green.
Hal ini menimbulkan kecemasan di masyarakat “apa bila bahan bakar minyak (BBM) naik maka biaya hidup dan bahan pokok juga naik dan Pemerintah harus segera mengambil langkah perlindungan sosial yang tepat sasaran.”
Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) seperti Pertamax (RON 92) yang sebelumnya Rp 12.300 per liternya naik menjadi Rp 16.250 perliter dan pertamax green (RON 95) yang sebelumnya Rp 12.900 perliternya naik menjadi Rp 17.000 perliter nya sementara harga pertalite Rp 10.000 perliter nya BBM yang di subsidi oleh pemerintah .
Fernanda Wibowo selaku wakil sekretaris aksi dan pelayanan BPC GMKI Cabang Medan masa bakti 2026-2028, peristiwa ini tidak terlepas pada kondisi lemahnya mata uang rupiah saat ini, dampak nya apa? “Kenaikan BBM akan mendorong kenaikan harga bahan pokok. Tanpa kebijakan mitigasi, rumah tangga miskin dan UMKM jadi korban utama.”
di tengah menghadapi tekanan kebutuhan biaya hidup dan harga kebutuhan pokok juga naik yang terdampak langsung adalah masyarakat sebagai komsumen.
Seharusnya pemerintah bijak khusus pemerintah pusat selaku pemangku kebijakan, untuk segera merancang langkah mitigasi yang melindungi masyarakat bawah dan memperkuat ketahanan energi nasional. Tanpa tindakan cepat, lemahnya rupiah dan kenaikan BBM akan memperpanjang tekanan pada daya beli dan memperlambat pemulihan ekonomi rakyat.