RE Nainggolan: Selesaikan Masalah Chapel USU Melalui Dialog dan Klarifikasi yang Jujur

Redaksi - Selasa, 26 Mei 2026 06:59 WIB
RE Nainggolan: Selesaikan Masalah Chapel USU Melalui Dialog dan Klarifikasi yang Jujur

Tokoh masyarakat Sumatera Utara, R.E. Nainggolan, menyampaikan sejumlah pandangan terkait polemik yang berkembang di Chapel Universitas Sumatera Utara. Pandangan tersebut disampaikannya usai mengikuti pertemuan bersama PIWK USU, Yayasan Chapel USU, dan Majelis Chapel USU pada 25 Mei 2026.

Menurut RE Nainggolan, persoalan yang berkembang di tengah masyarakat perlu diluruskan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang semakin meluas dan berpotensi memecah hubungan antarwarga kampus maupun masyarakat umum.

Ia menegaskan, dari sisi kepemilikan aset, lahan tempat berdirinya Chapel USU merupakan milik Universitas Sumatera Utara. Sementara bangunan Chapel dibangun oleh generasi pendahulu PIWK USU dan kemudian direnovasi secara bertahap untuk menunjang kebutuhan pembinaan kerohanian warga Kristen di lingkungan kampus yang dimotori Yayasan Chapel USU.

“Karena itu, keberadaan Chapel harus dipahami sebagai bagian dari fasilitas pembinaan rohani di lingkungan USU dan dikelola dengan semangat kebersamaan serta tanggung jawab institusional,” ujarnya.

RE Nainggolan juga menyoroti posisi Pendeta Gloria I. Balle yang disebutnya sebagai pelayan di lingkungan Chapel USU. Menurutnya, seorang pelayan seharusnya menjalankan tugas sesuai kebutuhan dan arah pembinaan yang ditetapkan PIWK melalui Majelis Chapel USU.

Dalam pandangannya, apabila pelayanan dianggap tidak lagi sejalan dengan tujuan pembinaan atau justru memunculkan persoalan yang menimbulkan kegaduhan, maka organisasi memiliki kewenangan melakukan evaluasi, termasuk mengembalikan pelayan ke tempat asal pelayanannya.

Ia menilai polemik yang berkembang belakangan ini telah memicu konflik di lingkungan kampus dan menyeret nama pimpinan universitas ke dalam tuduhan yang menurutnya tidak benar.

RE Nainggolan mengatakan, selama ini publik mendapat kesan seolah-olah pihak USU ingin mengambil alih atau bahkan menutup Chapel tersebut. Namun setelah mendengar klarifikasi dari berbagai pihak, ia menyimpulkan anggapan itu tidak benar.

Menurutnya, pihak USU tetap memberikan jaminan kegiatan ibadah dapat berlangsung dan bahkan menyediakan tempat alternatif selama proses renovasi dilakukan.

“Revitalisasi Chapel harus dipahami sebagai upaya memperbaiki fasilitas pembinaan iman mahasiswa Kristen agar lebih layak, aman, dan representatif bagi ribuan mahasiswa Kristen di USU,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Chapel USU bukan gereja dan tidak diperuntukkan bagi jemaat tetap. Karena itu, menurutnya, penggunaan Chapel untuk fungsi-fungsi gerejawi seperti baptisan dan pernikahan merupakan kekeliruan.

Dalam kesempatan tersebut, RE Nainggolan mengusulkan agar dilakukan konferensi pers dengan melibatkan seluruh pihak terkait guna menyampaikan fakta yang sebenarnya kepada masyarakat.

Menurutnya, keterbukaan informasi penting agar masyarakat memahami duduk persoalan secara utuh dan objektif serta tidak ada lagi ruang bagi pihak-pihak tertentu untuk memutarbalikkan informasi.

Selain itu, ia mengingatkan agar pihak-pihak yang merasa dirugikan tidak hanya menggunakan pendekatan lunak dalam menghadapi penyebaran informasi yang dianggap tidak benar.

Ia bahkan mengutip ungkapan Batak, “purpar pande dorpi, baen tu dimposna,” yang bermakna bahwa meskipun terasa keras pada awalnya, langkah tegas akan membawa hasil yang baik pada akhirnya.

Ungkapan tersebut, katanya, menggambarkan pentingnya ketegasan dalam menjaga kebenaran dan martabat lembaga.

Lebih lanjut, RE Nainggolan meminta agar pihak-pihak yang dinilai mendukung tindakan atau informasi yang tidak benar dapat dilaporkan dan diproses sesuai mekanisme hukum yang berlaku.

Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan tetap menjaga persatuan warga kampus, menghormati fungsi Chapel sebagai sarana pembinaan rohani, serta menghindari berkembangnya isu-isu yang dapat memecah hubungan sosial dan kerukunan di lingkungan USU.

Pada akhirnya, RE Nainggolan mengajak seluruh pihak mengedepankan dialog, klarifikasi yang jujur, dan semangat membangun demi kepentingan mahasiswa serta masa depan kehidupan kerohanian di lingkungan kampus.

“Chapel USU harus tetap menjadi tempat pembinaan iman yang damai, terbuka, dan mampu mempersatukan warga Kristen di tengah kehidupan akademik yang beragam,” pungkasnya.

Penulis
: Redaksi
Editor
: Redaksi