Kita Tidak Butuh Perang untuk Menjadi Pahlawan

Oleh Riqueza Raihan Nainggolan
Redaksi - Kamis, 10 November 2022 09:54 WIB
Kita Tidak Butuh Perang untuk Menjadi Pahlawan
ilustrasi: amazonaws.com

Kepahlawanan kerap diidentikkan dengan sosok tangguh yang memenangi pertempuran, membela kebenaran, berjuang dengan gagah berani melawan para penjajah. Tidak salah, karena mereka yang berjuang sampai titik darah penghabisan membela dan mempertahankan kemerdekaan bangsa, jelas adalah pahlawan. Hanya saja definisi itu tidak lengkap.

Kita tidak butuh perang untuk menjadi pahlawan. Apa karena kita ditakdirkan lahir dan hidup di era damai, dengan demikian tertutup peluang untuk menjadi pahlawan? Pun tidak juga harus menjadi sosok bertopeng yang punya kekuatan super, terbang ke sana kemari membasmi kejahatan di seantero negeri. Tidak benar hanya orang tertentu di era tertentu yang bisa menjadi pahlawan. Kepahlawanan bisa muncul dalam berbagai bentuk dan "ukuran", di setiap masa dan zaman.

Tenaga kesehatan dan semua pihak yang bekerja keras melawan gelombang demi gelombang wabah Covid-19—sebagian bahkan sampai kehilangan nyawanya—juga pahlawan. Para guru honorer, dengan semua keterbatasan hidup yang mengepungnya tetap memberikan pengabdian terbaik mendidik muridnya, petugas yang berjuang melawan kantuk menjaga perlintasan kereta api, orang-orang tua yang menempuh semua cara halal mencari nafkah demi bisa menyekolahkan anak, bahkan seseorang yang tidak mau menyerah memperjuangkan cita-citanya sendiri; juga pahlawan.

Siapa pun, “sekecil” apa pun yang dia lakukan, selama dia bisa berteguh hati melanjutkan perjuangan mewujudkan cita-cita dan nilai yang dia yakini di tengah berbagai rintangan dan keterbatasan, bisa memenuhi kriteria ini.

Pahlawan Melahirkan Pahlawan Berikutnya

Penulis asal Amerika Serikat, Paul Colfer pernah mengatakan, “People are not born heroes or villains; they’re created by the people around them.” Tidak ada orang yang terlahir menjadi pahlawan atau penjahat; mereka dibentuk oleh orang-orang di sekelilingnya.

Kita berada di sebuah zaman, di mana terjadi surplus atau kelebihan stok nasihat dan pengajaran. Di era telepon pintar dan media sosial ini kita bisa dengan mudah mengakses buku apa pun—termasuk kitab-kitab suci dari semua agama—untuk membaca, mendengar, atau menonton segala macam teori, pengetahuan, dan pengajaran. Sayangnya, di sisi lain kita defisit contoh dan keteladanan. Padahal perbuatan adalah sebaik-baik buku untuk “dibaca”, tetapi sayangnya ia pula seberat-berat buku untuk “ditulis”.

Apalah artinya seorang ayah yang selalu memberi tahu anaknya agar bertingkah laku beradab jika setiap hari anak itu menyaksikan sendiri bagaimana orang yang sama selalu marah-marah atau bahkan melakukan KDRT? Memberi tahu anak agar jujur, tetapi anak sendiri bolak-balik dibohongi?

Sisi terpenting lain dari kepahlawanan adalah inspirasi, menjadi contoh, pemicu semangat bagi orang lain. Itulah sebabnya mengapa di atas kita sebut bahkan orang yang berjuang “hanya” untuk cita-cita dan impiannya sendiri pun, bisa menjadi pahlawan. Dia akan menginspirasi orang lain, membuktikan bahwa semua hambatan, keterbatasan, ternyata tidak serta merta menutup pintu untuk mengubah nasib.

Oleh karena itu, dengan momentum Hari Pahlawan ini, tidak ada kata terlambat untuk mulai menjadi pahlawan dari lingkaran terkecil: diri sendiri, keluarga, tetangga, lingkungan, dan seterusnya diperbesar lingkaran demi lingkaran. Sekali lagi, siapa pun bisa menjadi pahlawan karena ia tidak ditentukan dari ukuran kekuatan dan kekuasaan, tetapi kekuatan dan keteguhan hati. Kepahlawanan adalah tentang kebulatan tekad menapaki jalan yang dipilih, bukan seberapa besar kemenangan dan kekuasaan yang bisa diraih.

Selamat Hari Pahlawan. (Penulis adalah mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Sumatera Utara)

Penulis
: Redaksi
Editor
: Redaksi