Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia: Antara Kemajuan, Tantangan, dan Arah Kebijakan ke Depan

Bintang Lesmana Hutasoit - Mahasiswa Pascasarjana Studi Pembangunan UKSW Salatiga
Redaksi - Sabtu, 18 April 2026 11:24 WIB
Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia: Antara Kemajuan, Tantangan, dan Arah Kebijakan ke Depan

jurnalpemerintahan.com -Indonesia merupakan bangsa dengan ruang hidup yang kaya, namun juga rapuh. Di satu sisi, hamparan hutan tropis, laut yang luas, dan tanah yang subur menjadi fondasi bagi kehidupan dan penghidupan jutaan orang. Namun di sisi lain, realitas yang kita hadapi hari ini menunjukkan adanya tekanan yang semakin besar terhadap lingkungan. Dalam situasi ini, pembangunan berkelanjutan sering dibicarakan, tetapi belum sepenuhnya dihidupi sebagai prinsip bersama.

Kondisi lingkungan saat ini memperlihatkan tanda-tanda yang tidak bisa diabaikan dan dipandang sebelah mata. Perubahan bentang alam terjadi begitu cepat hutan beralih fungsi, ruang terbuka semakin menyempit, dan kualitas air serta udara mengalami penurunan. Di banyak tempat, hubungan manusia dengan alam menjadi semakin berjarak. Alam tidak lagi dipandang sebagai ruang hidup yang harus dijaga, melainkan sebagai objek yang bisa dimanfaatkan tanpa batas.

Di sisi lain, tekanan terhadap lingkungan masih menjadi tantangan utama. Aktivitas ekonomi berbasis sumber daya alam seperti pertambangan, perkebunan, dan kehutanan masih memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi, namun juga memicu deforestasi, degradasi ekosistem, dan pencemaran lingkungan.Ketidakseimbangan antara pembangunan ekonomi dan konservasi lingkungan masih menjadi isu yang terus berulang dalam berbagai sektor pembangunan (Azzahra et al., 2025).

Kenyataan ini mencerminkan adanya cara pandang yang masih menempatkan pertumbuhan sebagai tujuan utama, tanpa mempertimbangkan keseimbangan jangka panjang. Aktivitas ekonomi sering berjalan dengan logika efisiensi dan keuntungan, sementara dampak ekologisnya dianggap sebagai konsekuensi yang bisa ditunda atau diabaikan. Dalam praktiknya, hal ini melahirkan pola konsumsi yang berlebihan, eksploitasi sumber daya yang tidak terkendali, serta minimnya tanggung jawab terhadap pemulihan lingkungan.

Namun, perjalanan menuju keberlanjutan tidaklah sederhana. Tantangan terbesar justru terletak pada tarik-menarik antara kepentingan jangka pendek dan kebutuhan jangka panjang. Tidak mudah mengubah kebiasaan yang sudah mengakar, apalagi ketika pola tersebut dianggap menguntungkan secara langsung.

Selain itu, masih terdapat kesenjangan pemahaman mengenai pentingnya menjaga lingkungan, yang membuat upaya-upaya keberlanjutan berjalan tidak merata.

Selain itu, tantangan perubahan iklim semakin memperburuk kerentanan lingkungan di Indonesia. Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap kenaikan permukaan air laut, cuaca ekstrem, serta bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi. Kondisi ini menuntut adanya strategi adaptasi dan mitigasi yang lebih kuat dan terintegrasi dalam perencanaan pembangunan nasional (Syamzaimar, 2025).

Di tengah tantangan tersebut, pembangunan berkelanjutan seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai konsep atau jargon, tetapi sebagai cara berpikir dan bertindak. Kesadaran bahwa manusia bukanlah pusat dari segalanya, melainkan bagian dari ekosistem yang saling terhubung. Ketika keseimbangan ini terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh alam, tetapi juga oleh manusia itu sendiri

Secara nasional, implementasi SDGs di Indonesia telah mencapai lebih dari 70 persen indikator yang ditargetkan. Meski demikian, sejumlah kajian menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan signifikan dalam implementasi, terutama terkait koordinasi lintas sektor, pendanaan, serta kesenjangan pembangunan antarwilayah. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan kebijakan belum sepenuhnya sejalan dengan kondisi implementasi di lapangan (Mambo & Siahaan, 2025).

Dalam konteks ini, pembangunan berkelanjutan tidak lagi dapat dipandang sebagai pilihan, melainkan sebagai kebutuhan mendesak bagi masa depan Indonesia. Keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan sosial menjadi kunci utama dalam memastikan keberlanjutan pembangunan jangka panjang.

Akan tetapi harapan masih terbuka, tetapi tidak akan hadir dengan sendirinya. Dibutuhkan kesadaran yang jujur dan kepedulian yang nyata dari setiap orang. Generasi hari ini tidak bisa lagi sekadar menjadi penonton dalam krisis lingkungan dan harus berani mengubah cara hidup agar lebih selaras dengan alam yang menopang kehidupan. kesadaran saja tidak cukup jika tidak diterjemahkan menjadi tindakan yang konsisten. Sebab pada akhirnya, pembangunan berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan besar atau jargon global, melainkan oleh keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari apa yang kita konsumsi, bagaimana kita membuang sampah, dan sejauh mana kita peduli terhadap dampak dari setiap pilihan kita.

Oleh karena itu tantangan utama pembangunan berkelanjutan di Indonesia bukan terletak pada ketiadaan kebijakan, melainkan pada konsistensi implementasi dan perubahan paradigma pembangunan. Pembangunan tidak boleh lagi hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi harus diarahkan pada keberlanjutan ekologis dan kualitas hidup generasi mendatang.

Daftar Pustaka

Azzahra, H., Syakirah, S., Maulida, T., & Hidayat, R. A. L. (2025). Pembangunan ekonomi dan konservasi lingkungan dalam kebijakan pembangunan berkelanjutan. Indonesia Economic Journal, 1(2), 1662�"1673.

Kurniawan, H., Umamah, R., Zuhrah, N., & Mahdalena, V. (2024). Tantangan pembangunan berkelanjutan: Kesadaran lingkungan masyarakat. Translitera: Jurnal Kajian Komunikasi dan Studi Media, 13(2), 29�"37.

Mambo, C. M. B., & Siahaan, L. E. (2025). Pembangunan berkelanjutan di tengah dinamika nasional: Analisis implementasi SDGs di Indonesia. Jurnal Transformasi Humaniora.

Rochmad, & Irawati, A. C. (2023). Membangun hukum lingkungan yang berkelanjutan. ADIL Indonesia Journal.

Syamzaimar. (2025). Kebijakan perubahan iklim di Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan. QAYID: Jurnal Pendidikan Islam.

Penulis
: Redaksi
Editor
: Redaksi