Hidup berdampingan dengan Artificial Intellegence Apakah sebuah kesempatan atau ancaman?

Penulis : Dakka Harris Verdinand Lumbantobing, S.Pd Mahasiswa Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana.
Redaksi - Selasa, 23 Juni 2026 22:06 WIB
Hidup berdampingan dengan Artificial Intellegence  Apakah sebuah kesempatan atau ancaman?

jurnalpemerintahan.com -Generasi Z Adalah generasi yang merasakan dampak serta manfaat kemajuan dari teknologi dan internet. Dengan hal ini dapat disimpulkan bahwa generasi Z ini merupakan generasi yang lebih mudah mengakses segala informasi. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa generasi ini tumbuh menjadi generasi yang cerdas.

Generasi ini kalau dilihat berfokus pada Pendidikan dan menyadari bahwa dunia hari ini sangat kompetitif sehingga kebanyakan generasi ini sangat antusias dalam meningkatkan keterampilan (soft skill) dan kreatifitas yang tidak bertumpu pada satu pekerjaan yang mutlak.

Hanya saja, ada beberapa hal yang tentu nya menjadi titik kekurangan dalam perkembangan generasi ini, yaitu soal etika dan adab. Mengapa demikian? Sebagai contoh saya mengambil dalam satu interaksi social yang sering kita lihat dan alami dalam kehidupan sehari-hari yaitu :

1. Ketika tidak tahu langsung searching

Mengapa saya mengambil contoh ini, dikarenakan semua akses yang didapatkan sangat praktis, sehingga menyebabkan ada perbedaan dalam menyikapi etikad dasar di generasi sebelumnya.

Sebagai perbandingan, saya ambil contoh dizaman boomers atau milenial orang-orang yang lahir dizaman ini dituntut untuk banyak menghafal dari media pembelajaran yang tersedia dizaman tersebut. Ketika dibenturkan dengan generasi Z maka akan muncul semacam kontradiksi dalam zamannya.

Tetapi saya tidak ingin menebar sebuah ancaman, saya lihat didalam hal ini generasi Z juga perlu untuk memperbanyak literasi dengan membaca buku-buku yang tebal agar otak dapat dilatih lebih energik. Dan dalam hal pemanfaatan ruang teknologi sekarang (Artificial Intellegence), generasi Z juga harus mampu memanfaatkan teknologi ini sebagai ruang penambah wawasan (take a control) dan saya menilai jangan sampai generasi ini kemudian di control oleh Artificial Intellegence ini.

2. Ketika beraktifitas sambil bermain Handphone atau Media Sosial

Hal ini sering terjadi, dalam ruang interaksi social banyak kita temukan bahwa tidak sedikit orang di zaman sekarang (bahkan generasi boomers dan millennial) kerap melupakan interaksi social adalah sebuah kontak atau sentuhan langsung.

Dalam interaksi social di Amerika Serikat, banyak anak muda sudah kembali beralih ke Alat Komunikasi jadul. Karena mereka menyadari bahwa ketika teknologi tidak dapat di control maka Attention dari pribadi manusia juga akan berkurang drastis.

Ketika Attention ini berkurang drastis, maka kesimpulan nya manusia akan kehilangan senetuhan atau kontak langsung dengan manusia lainnya. Hakikat Sosiologi juga tentu akan bergeser semakin jauh.

Kedua contoh diatas dapat kita lihat Adalah sebagai problem apabila tidak dapat diedukasi dengan baik. Ditambah dengan adanya bonus demografi maka seharusnya kemajuan teknologi hari ini harus dapat di control. Ketika teknologi ini dapat dikontrol maka saya optimis melihat bahwa generasi selanjutnya (generasi alpha dan beta) juga mampu menjadi manusia yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Dan melihat perkembangan teknologi ini bagi peserta didik, akan sangat membantu perkembangan internal dan eksternal apabila dapat dimanfaatkan dengan arif dan bijaksana. Oleh karena itu peserta didik hari ini perlu penguatan secara mendalam (deep learning) soal penguatan etika dan adab.

Mengutip dari Stephen Hawking, “Orang dapat membayangkan teknologi seperti itu mengakali pasar keuangan, menciptakan peneliti manusia, memanipulasi pemimpin manusia, dan mengembangkan senjata yang bahkan tidak dapat kita pahami. Sedangkan dampak jangka pendek dari AI tergantung pada siapa yang mengendalikannya, dampak jangka panjangnya tergantung pada apakah itu bisa dikendalikan atau tidak sama sekali”, maka seharusnya dengan beberapa hal yang cenderung mulai pudar dalam ruang lingkup social setidaknya kita tidak menormalisasikan hal tersebut. Senantiasa juga nilai dan norma social yang sudah berlaku dapat berkolaborasi baik dan terarah dengan teknologi (Artificial Intellegence).

Maka saya melihat hal ini Adalah sebuah kesempatan yang sangat baik menuju generasi yang lebih superior tanpa meninggalkan nilai dan norma social yang ada. Saya menyebutnya Generasi diatas garis.

Namun apabila cenderung ketergantungan atau bahkan disalahgunakan maka akan dapat menjadi sebuah boomerang dimasa yang akan datang.

Penulis
: Redaksi
Editor
: Redaksi