Voltaire pernah menuntut, "Jika Tuhan tidak ada, maka perlu untuk menciptakannya." Pada dasarnya Voltaire adalah seorang kritikus yang menganggap agama dengan sinis sebagai korporasi dogmatis. Tapi kali ini dia benar-benar tulus. Dia berargumen bahwa kepercayaan pada Tuhan diperlukan, agar manusia secara kolektif bisa terkendali.
Voltaire tidak sepenuhnya benar, sebagian orang hari ini lepas kendali dengan anggapan bahwa eksistensi agama adalah sarana manusia untuk menjadi supremasis dan diskriminatif. Tuhan yang Maha Pemilik dilokalisir menjadi "hanya memiliki kami". Tuhan dipaksa monokrom dan tidak menghendaki warna-warni.
Setiap agama sejatinya belah simetris yang setiap pemeluknya berada pada posisi keyakinan yang sama dengan lipatan yang berbeda. Ketika kita meyakini bahwa semua orang yang tidak satu keimanan dengan kita akan masuk neraka, orang yang "dinerakakan" juga punya keyakinan yang sama terhadap kita.
Tapi agama-agama bukanlah bejana pertempuran antar manusia. Bagaimana pun manusia diciptakan oleh Tuhan yang sama. Sungguh tidak mungkin Tuhan menjadikan agama sebagai alat pengadu domba. Karena dengan agama - apapun agamanya - manusia diharapkan mampu untuk mencapai Tuhannya.
Dari agama lalu semua manusia ingin mengenal Tuhan agar hidupnya terkendali dengan baik. Manusia mendirikan rumah-rumah ibadah karena manusia yang membutuhkan Tuhan, bukan Tuhan yang membutuhkan manusia. Tuhan yang tidak boleh dihambat, disekat dan dihegemoni.
"The Almighty is being minimized", Sang Maha Kuasa sedang dikerdilkan paksa, teriak filsuf Alauddin Akhtar di Lahore suatu ketika. Bahkan sebagian besar manusia menganggap agama pun bisa mengendalikan Tuhan. Mereka melarang pendirian "Rumah Tuhan" karena Tuhan dianggap hanya miliknya. Tuhan dijadikan harta benda yang terbatas, beku dan bisa diatur.
"Itulah penyakit manusia", kata Jalaluddin Rumi, "ketika merasa paling dekat dengan Tuhan, mereka akan berusaha menjauhkan Tuhan dari orang lain." Manusia selalu membawa agama dan Tuhan ke wilayah intrik dan konspirasi. Tuhan bukan lagi pengendali, tapi dikendalikan. Di Cilegon, kali ini semua itu terjadi.