jurnalpemerintahan.com -Sabtu, 28 Maret 2026 menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan saya sebagai bagian dari generasi muda gereja. Bertempat di Aula STFT Jakarta, Jalan Proklamasi, saya mengikuti kegiatan Pelatihan Kader Profesional Muda Gereja. Dalam forum ini, saya hadir sebagai peserta sekaligus pendengar langsung dari berbagai gagasan strategis yang disampaikan oleh para tokoh nasional dan akademisi.
Salah satu momen yang paling membekas bagi saya adalah ketika saya mendengarkan secara langsung keynote speech dari Luhut Binsar Panjaitan. Dalam pemaparannya, beliau menggambarkan kondisi dunia hari ini yang penuh ketidakpastian. Mulai dari kebijakan tarif yang dikeluarkan oleh Donald Trump, perubahan rantai pasok global, perlambatan ekonomi Tiongkok, hingga konflik geopolitik seperti perang di Timur Tengah dan Perang Rusia-Ukraina.
Dari apa yang saya dengarkan, saya menyadari bahwa dunia saat ini tidak sedang baik-baik saja. Ketegangan antara negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Rusia menunjukkan bahwa arah global bergerak dalam ketidakpastian yang tinggi. Dalam konteks itu, penegasan bahwa China merupakan mitra strategis Indonesia dalam politik bebas aktif menjadi pengingat bahwa bangsa ini harus tetap rasional dan cermat dalam menentukan posisinya di tengah percaturan global.
Namun, yang paling membekas bagi saya bukan hanya analisis global tersebut, melainkan pesan-pesan personal yang beliau sampaikan kepada kami sebagai peserta. Saya mendengar dengan jelas bahwa sepintar apa pun seseorang, tanpa networking dan kredibilitas, maka semua itu tidak akan berarti. Ini menjadi refleksi yang sangat dalam bagi sayaâ€"bahwa proses kaderisasi bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang membangun kepercayaan dan relasi.
Saya juga menangkap dorongan yang sangat kuat untuk mulai bertindak dari kondisi saat ini. Tidak perlu menunggu sempurna, tidak perlu menunggu kesempatan ideal. Dalam keadaan apa pun, kita harus berbuat sesuatu. Pesan ini terasa sangat personal bagi saya, sekaligus menjadi panggilan untuk tidak menunda kontribusi.
Di sisi lain, saya juga mencatat bagaimana beliau menyinggung dinamika domestik, termasuk kasus penyiraman terhadap aktivis KontraS. Pernyataan tersebut menjadi refleksi kritis bahwa realitas sosial-politik harus dihadapi dengan keberanian, namun tetap dengan kebijaksanaan.
Setelah sesi utama, saya mengikuti sesi kedua yang tidak kalah penting. Jika pada sesi pertama saya diajak melihat dunia dari perspektif geopolitik dan kepemimpinan strategis, maka pada sesi kedua saya diajak untuk kembali meneguhkan identitas sebagai bagian dari gereja.
Dalam sesi ini, saya mendengarkan pemaparan dari Binsar J. Pakpahan, Angel Damayanti, Parulian Tumanggor, Martin Hutabarat, serta Juniper Girsang. Dari sesi ini, saya menangkap satu pesan kuat: bahwa gereja tidak boleh kehilangan relevansinya di tengah perubahan zaman.
Para narasumber menegaskan bahwa gereja harus hadir secara aktif dalam kehidupan masyarakat. Gereja tidak cukup hanya menjadi ruang spiritual, tetapi harus menjadi kekuatan yang mampu melahirkan kader-kader yang siap terlibat dalam berbagai bidangâ€"baik akademik, politik, hukum, maupun sosial.
Bagi saya, sesi ini menjadi penyeimbang yang sangat penting. Jika sebelumnya saya diajak berpikir luas tentang dunia, maka di sini saya diingatkan tentang akar identitas sayaâ€"bahwa semua keterlibatan itu harus berangkat dari nilai iman yang kokoh.
Dari seluruh rangkaian kegiatan ini, saya sampai pada kesadaran bahwa menjadi generasi mudagereja bukanlah peran yang sederhana. Ada tanggung jawab besar yang harus dihidupi di tengah dunia yang kompleks.
Saya melihat setidaknya ada tiga peran utama yang harus dijalankan.
Pertama, sebagai agen transformasi sosial. Generasi mudagereja harus peka terhadap realitas, berani bersuara terhadap ketidakadilan, namun tetap bijak dan bertanggung jawab. Kita tidak boleh menjadi generasi yang apatis, tetapi juga tidak boleh kehilangan arah dalam bersikap.
Kedua, sebagai pribadi profesional yang berintegritas. Dunia hari ini membutuhkan orang-orang yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kredibilitas. Prinsip seperti no conflict of interest, ketelitian, serta tanggung jawab menjadi bagian penting yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Ketiga, sebagai jembatan antara iman dan realitas global. Saya menyadari bahwa gereja tidak boleh tertinggal dalam memahami isu-isu besar dunia. Justru generasi mudalah yang harus mampu membawa nilai iman ke dalam ruang-ruang strategis tersebut, sehingga gereja tetap relevan dan berdampak.
Salah satu pesan yang paling sederhana namun sangat dalam bagi saya adalah bahwa doa terbaik adalah perbuatan baik yang kita lakukan. Ini menjadi pengingat bahwa iman tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Nilai-nilai seperti tanggap, tanggon, dan trengginas, serta sikap open mind, open heart, dan open will menjadi prinsip yang saya bawa pulang dari kegiatan ini. Semua itu semakin diteguhkan oleh firman Tuhan dalam Injil Matius 5:16, yang mengajak kita untuk menjadi terang melalui perbuatan.
Pada akhirnya, pelatihan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang pembentukan kesadaran. Kesadaran bahwa menjadi kader profesionalmudagereja berarti siap terlibat dalam dunia nyataâ€"dengan segala kompleksitasnya.
Saya percaya, harapan dari kegiatan ini jelas: lahirnya generasi mudagereja yang tidak hanya kuat dalam iman, tetapi juga unggul dalam kapasitas, luas dalam jejaring, dan teguh dalam integritas.
Bagi saya pribadi, ini bukan akhir dari sebuah kegiatan, melainkan awal dari sebuah komitmenâ€"untuk terus belajar, bertumbuh, dan mengambil bagian dalam menghadirkan terang di tengah dunia.
Tabik