Puncak peringatan dan Rangkaian semarak kemerdekaan RI ke 78 berakhir hari ini 31082023. Satu bulan penuh masyarakat seluruh Indonesia dihimbau pasang Bendera Merah Putih sebagai simbol nilai2 kejuangan dan kesucian. Tak terkecuali masyarakat kota Medan ikut dan meramaikan HUT ke 78 RI dengan berbagai kegiatan dan hiburan. Sebagai tanda mencintai kota Medan, HKBP Distrik X Medan Aceh yg terdiri dari 174 Huria/Gereja dengan jumlah jemaat kurang-lebih 189 ribu melalui panitia thn profesionalisme dlm penatalayanan ikut bergembira dan merefleksikannya.
Dalam rangka semarak Kemerdekaan itu, maka pada Sabtu, 26 Agustus 2023 HKBP Distrik X Medan Aceh melakukan City Tour Kota Medan dengan Gowes Ama dengan Rute : Start dari Kantor Distrik - Istana Maimun - Tjong A Fie Mansion - dan Finish di Perguruan Kristen Immanuel Medan Jl. Slamet Riyadi No. 1 Medan.
Rute ini sengaja dipilih Panitia Tahun Profesionalisme dalam Penatalayanan HKBP Distrik X Medan-Aceh dengan rute pendek tetapi sarat dengan makna keberagaman, nilai historis dan nasionalisme yg mesti di kedepankan oleh HKBP sebagai Gereja tertua dan terbesar di Sumatera Utara.
Kegiatan Semarak Kemerdekaan HUT ke-78 RI ini bagian dari menyongsong Tema Orientasi Pelayanan HKBP tahun 2024 yakni Oikumene yg Inklusif. Dan pelaksanaan tema ini bersamaan dengan tahun Politik yaitu Pemilu serentak yang akan dilaksanakan pada 14 Februari 2024. Sehingga bagi jemaat HKBP Distrik X Medan Aceh menuju kedua agenda diatas memerlukan sebuah resultante dasar pemikiran yg mencerahkan dengan bobot Oikumenis dan Nasionalis yang benar-benar nyata dan berpengaruh. Oikumenis yang inklusif berarti HKBP proaktif menghadirkan kebaikan bagi semua dan merangkul semua tanpa kecuali disemua aspek kehidupan. Sedangkan Nasionalis agar HKBP lebih cerdas, solider, adil, demokratis dan antisipatif melihat kepemimpinan masa depan Kota Medan khususnya dan Indonesia umumnya.
Medan adalah miniatur Indonesia yg penduduknya hidup rukun damai sejak dulu kala jauh sebelum merdeka. Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, Medan kaya dengan peninggalan sejarah beragam etnik budaya yang sudah dinobatkan sebagai cagar budaya. Dengan memiliki banyak daya tarik budaya, etnik dan sejarah yang menarik untuk dijelajahi adalah etnik batak kristen yg hidup di kota Medan jauh sebelum merdeka dengan terorganisir melalui kehidupan kekristenan yg memilih beribadah di HKBP Jl. Sudirman (1917) dan ada yg beribadah di GPIB Jl. Diponegoro ( 1921), di GKI Jl. Zainul Arifin (1915) dan di HKI Jl. Mawar ( 1928).
Gowes Ama ber-refleksi di Istana Maimun melihat kebesaran etnis melayu muslim yang melakoni kehidupan kerajaan Melayu Deli yg sudah hidup dan bermukim di sekitar sungai deli berabad2 lamanya ( sejak tahun 1632). Kebanggaan etnis Melayu Deli adalah Istana Maimun yang sampai saat ini masih eksis dipimpin oleh Sultan ke 14, Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam ( dinobatkan sebagai Sultan pada saat berumur 8 tahun) . Kesultanan ini menyimpan banyak Sejarah dengan Istana yang didirikan oleh Sultan Ma'moen Al - Rasyid pada tahun 1891.
Selanjutnya Gowes Ama ber-refleksi di Tjong A Fie Mansion milik etnis tionghoa yang melakoni kehidupannya dengan berdagang dan menjadi penggerak perekonomian kota Medan. Tjong A Fie Mansion, sebuah bangunan bersejarah yang menghadirkan gambaran hidup mewah dan budaya Tionghoa pada masa lalu yang dibangun oleh seorang pedagang sukses bernama Tjong A Fie pada tahun 1895.
Tjong A Fie sendiri merupakan seorang etnis Tionghoa yang sangat berpengaruh di Medan pada zamannya. Bangunan ini mencerminkan perpaduan arsitektur Tiongkok, Eropa yang menciptakan suasana yang unik dan memukau dengan gaya kontemporer bernunasa kuning etnik melayu. Sebuah penghormatan yg tulus dari Tjong A Fie sebagai pemilik bagi penduduk setempat ( Melayu). Tjong A Fie dikenal sebagai seorang dermawan dan filantropis, yang berkontribusi besar terhadap pembangunan sekolah, rumah sakit, rumah ibadah dan infrastruktur penting lainnya di Kota Medan.
Kesultanan Deli - Sultan Ma'Moen Al Rasyid dan Keluarga Tjong A Fie adalah 2 (dua) keluarga yg bersahabat sampai saat ini. Kedua keluarga masih terus bersilaturami pada setiap hari raya idul fitri dan hari raya imlek sebagaimana penjelasan tour guide Tjong A Fie Mansion.
Gowes Ama finish di Perguruan Kristen Immanuel Medan (PKIM). Tempat finish gowes ini juga sengaja dipilih panitia tahun profesionalisme dalam penatalayanan karna perguruan yg berdiri tahun 1938 memiliki historis yg cukup panjang sebagai sekolah kristen peninggalan zaman Belanda di Kota Medan dengan alumni yang tersebar diberbagai belahan dunia.
Bagi HKBP Distrik X Medan Aceh melalui Panitia Tahun Profesionalisme dalam Penatalayanan ingin mengajak jemaat HKBP khususnya dan masyarakat Kota Medan umumnya menyadari bahwa Medan adalah Kota beraneka etnik dan Kota yang sedari dulu sudah dikenal dengan Kota yang bersahabat. Sehingga kepelbagaian etnik masyarakat Kota Medan harus tetap terpelihara dengan baik, aman, nyaman dan melaju untuk Kota Medan yang Maju untuk semua etnik tanpa memandang suku, agama dan ras.
Sebagai bagian yang utuh dari Kota Medan dengan jejak rekam historis yg jelas maka HKBP Distrik X Medan Aceh merefleksikan HUT RI ke 78 dengan berkontribusi sebagai jemaat dan pelayan yang profesional. Agar Kota Medan lebih baik lagi ke masa yang akan datang. Kota Medan harus bebas banjir, bebas macet, bebas begal dan bebas dari pemadaman PLN sehingga kehidupan beragama, berdagang, berbudaya dan bersekolah para keturunan leluhur berbagai tokoh etnik kota Medan semakin sejahtera, damai dan hidup berdampingan.
Pekik Perjuangan : Merdekaaa!