Belajar dari Spirit Anak Muda 94 Tahun yang Lalu

Oleh Jadi Pane, SPd, MM
Redaksi
Dokumen Redaksi
28 Oktober 1928 di halaman depan Gedung IC, Jl. Kramat 106, Jakarta. Tampak duduk dari kiri ke kanan antara lain (Prof.) Mr. Sunario, (Dr.) Sumarsono, (Dr.) Sapuan Saatrosatomo, (Dr.) Zakar, Antapermana, (Prof. Drs.) Moh. Sigit, (Dr.) Muljotarun, Mardani,

Bila kita analisis lagi lebih dalam saya sangat yakin tantangan yang dihadapi oleh pemuda kita pada tanhun 1928 jauh lebih kompleks daripada sekarang ini. Mengapa saya katakan demikian? Saat ini kita hidup di era Covid-19 yang merupakan sebuah tantangan cukup berat bagi kita. Banyak kita mengeluh dengan adanya Covid-19 ini padahal masih banyak yang bisa kita lakukan untuk bertahan dengan berbagai fasilitas pendukung yang ada. Sementara pada tahun 1928 anak-anak muda kita tak kenal pamrih dan tak kenal lelah untuk kejayaan bangsa Indonesia mereka terus berjuang dengan fasilitas yang hampir tidak ada. Ini harus jadi sebuah pembelajaran maha penting bagi kita semua betapa spirit berjuang harus dipupuk dan disuntiikan kepada semua anak-anak muda agar jangan jadi generasi yang cengeng.

Perjalanan bangsa kita kedepan sangat tergantung kepada sikap kita sendiri. Jika kita membangun sikap kebhinnekaan sebagai fundasi dengan mengedepankan prinsip kebersamaan dan kesetaraan untuk membangun maka NKRI akan jadi rumah masa depan kebangsaan yang terawat dengan bagus. justru sebaliknya, jika kita mengedepankan fanatisme bersuku dan beragama yang berlebihan maka rumah kebangsaan ini akan bisa rubuh dan hancur. Tetapi pelajaran sejarah bangsa sebagai sebuah momentum untuk berefleksi bisa kita jadikan permenungan untuk merajut asa KeIndonesiaan yang lebih baik dengan konsep penguatan rumah kebangsaan yang lebih baik.

94 Tahun yang lalu pemuda dari berbagai latar belakang yang berbeda dengan satu visi yang maha agung berkumpul untuk identitas Keindonesiaan yang ssangat luar biasa. Karakter kebangsaan dan sikap negarawan yang mereka tunjukkan bisa jadi sebuah pesan khusus bagi siapa saja saat ini. Tetapi permenungan peristiwa sumpah pemuda 94 Tahun yang lalu harus jadi pelajaran khusus bagi semua anak-anak muda sebagai the next generation yang kita harapkan mengisi kemerdekaan dan jiwa kebangsaan bangsa ini. Tentu itu tidak berlebihan karena spirit kebangsaan sumpah pemuda bisa jadi penyemangat cerdas untuk mendorong anak-anak muda bangsa ini untuk lebih inovatif dan kreatif dengan basis kebangsaan dan kebhinnekaan yang kuat.

Sebagai sebuah negara bangsa yang kaya dengan budaya, dibentuk dengan latar belakang agama yang berbeda tentu kita punya tanggung jawab dan tugas mulia bagaimana mengelola keberagaman ini agar tetap utuh dalam bingkai NKRI. Konsep NKRI harga mati sudah sering kita dengar dan merupakan konsensus nasional yang sudah jadi patron kebangsaan. Saat ini ancaman kepada konsep NKRI seringkali datang dari segelintir orang yang mencoba untuk mengubah ideologi NKRI dengan berbagai dalil, termasuk kebebasan berekspresi. Tentu kita sebagai warga negara yang punya kecerdasan historis sangat tidak menginginkan ini. Maka, NKRI harga mati dan pluralisme harus dikelola dengan baik dalam bingkai NKRI.

Saat ini ancaman kebangsaan dan tantangan berbangsa bukan hanya dari kaum radikal dan intoleran. Saat ini bangsa kita diperhadapkan pada sebuah jaman yang menuntut kecerdasan maksimal, menuntut keterampilan khusus, menuntut inovasi, bahkan disebut dengan “abad inovasi”. Sebuah abad yang menuntut skil dan keterampilan tentu bukan mudah menghadapinya. Paradigma jaman ini disebut dengan era revolusi industri 4.0. Tanda -tandangnya adalah semua serba online, serba praktis, cepat, terukur dan terhubungan secara global. Bagaimana sebuah kejadian dalam hitungan menit bisa kita akses secara bersamaan. Banyak orang melakukan pekerjaan dari laptop asalkan ada fasilitas internet.

Dimana-mana banyak gerai toko tutup karena pemasaran online. Kantor pos yang biasanya mengantar surat suatu saat bisa saja tutup karena model surat elektronik. Artinya, di era revolusi industri 4.0 pekerjaan tangan secara manual dan proses lambat tergantikan oleh sebuah sarana yang serba cepat dan praktis (online). Masalahnya, bagaimaan anak –anak muda bangsa ini menyikapi kondisi kekinian yang sarat dengan muatan teknologi yang sangat tinggi dan memnuntut adaptasi yang cerdas dan inovatif?

Kita ahrus belajar dari romantisme sejarah pemuda di negara ini dimana dengan segala keterbatsan pengetahuan dan keterbatasan teknologi saat itu tetapi mampu menghasilkan karya yang sangat monumental yang sangat luar biasa untuk menggarami perjalanan bangsa kita dengan konsep nasionalisme yang sangat tinggi dan satu kesatuan utuh, yaitu NKRI harga mati.. Okelah, kita setuju bahwa peran pemuda dalam membangun bangsa ini sangat besar dan punya pengaruh yang sudah jadi catatan emas. Membanggakan sejarah semata tidak cukup lagi, tetapi butuh inovasi bagaimana mendesain anak –anak muda agar bisa berbuat lebih banyak, punya kemanfaatan yang sangat terukur, dan mampu menjadi kekuatan utama dalam membangun masa depan bangsa yang lebih maju.

Untuk itu, anak-anak muda sebagai generasi bangsa harus melakukan beberapa hal, pertama: mendorong anak-anak muda sebagai generasi bangsa atau kaum anak muda yang ramah dengan inovasi dan kreasi berbasis IPTEK. Artinya, melalui basis inovasi anak-anak muda dengan cara membangun diskusi –diskusi ilmiah, membangun mampu membekali mereka untuk bisa lebih produktif. Bagaimana membangun inovasi dan mempersiapkan kader yang ramah teknologi harus dilakukan dengan terukur sebagai sebuah solusi yang harus dilakukan. Program kerja grand desain masa depan pemuda adalah desain yang mempersiapkan intelektual muda bangsa berbasis pada kemajuan IPTEK secara organisasi.

Kedua, medorong anak-anak muda agar lebih progresif memberikan pemikiran kritis tentang inovasi dan kreasi masa depan yang lebih ramah pada kemajuan teknologi informasi. Saatnya ruang untuk berkreasi yang inovatif dan kreatif kita pikirkan sebagai generasi millenial agar kedepan mereka akan jadi generasi yang fokus pada pengembangan inovasi dan kreasi.

Ketiga, mendorong anak-anak muda yang mampu mengedepankan platform diskusi kebangsaan yang fokus pada inovasi dan kreasi agar ada “solusi” yang dihasilkan. Dalam hal inilah anak –anak muda mampu bertransformasi sehingga menjadi cikal bakal kader yang inovatif dan kreatif melalui visi dan misi kebangsaan yang ramah dengan era revolusi industri 4.0.

Keempat, para anak muda saat ini harus mempunyai kecerdasan dan kepedulian pada lingkungan hidup. Merawat alam adalah panggilan dan harus benar-benar dipahami oleh para anak-anak muda di negara ini. Mengingat masifnya perusakan lingkungan hidup saat ini saatnya semua anak-anak muda menyadari betapa panggilan dan kecerdasan akan wawasan lingkungan untuk NKRI harus dipupuk sebagai sebuah prasyarat mutlak untuk keberlangsungan rumah kebangsaan NKRI.

Penutup

Menghadirkan generasi intelektual yang punya visi dan misi kebangsaan, menghargai keberagaman, punya dedikasi Keindonesiaan adalah pesan agung sumpah pemuda setelah momen historis itu berlalu 94 tahun yang lalu. Masa Depan kontruksi kebangsaan kita sangat tergantung sejauh mana anak-anak muda bangsa ini punya kecerdasan sejarah untuk merefleksikan diri melalui tindak heroik anak-anak muda 94 Tahun yang lalu. Semoga anak-anak muda kedepan mampu menjadi generasi emas yang inovatif dan kreatif berbasis pengetahuan yang tinggi, tetapi mencerminkan punya wawasan kebangsaan yang tinggi terhadap NKRI dengan melihat bagaimana anak –anak muda 94 tahun yang lalu punya spirit yang sangat luar biasa.

Penulis adalah: Dosen di Berbagai PTS ddan Saat Ini Anggota Pengurus Yayasan Universitas HKBP Nommensen Medan/ Senior GMKI dan GAMKI/ Aktif Pengurus di Partai Golkar Sumatera Utara


jurnalpemerintahan.com -

Penulis
: Jadi Pane
Editor
: Toga Nainggolan

Tag:

Berita Terkait

Opini

Transformasi Jurnal Pemerintahan

Opini

Rumah Tuhan Cilegon

Opini

Peristiwa Yang Terjadi Pada 28 Oktober: Sumpah Pemuda hingga Lahirnya Bill Gates