Sekarang ini ada kecenderungan meningkatnya sikap dan tindakan intoleransi diikuti maraknya politik identitas. Itu tren berbahaya yang harus diredam dengan baik oleh semua orang yang punya cita-cita dan komitmen menjaga jatidiri bangsa dengan kebhinnekaannya.
“Survei yang saya baca, angkanya sekarang sudah hampir fifty-fifty. Persisnya, opini toleran 52%, yang intoleran 48%. Yang perlu dicatat, grafiknya terus menanjak. Artinya, kalau keadaan ini dibiarkan tanpa tindakan pencegahan yang tepat, tinggal menunggu waktu saja kapan situasinya akan terbalik. In jelas mengkhawatirkan,” papar Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie saat berkunjung dan berdiskusi di Kantor Redaksi Jurnal Pemerintahan, Medan, Kamis (1/12/2020) siang.
Grace yang sedang melakukan safari politik ke Sumut itu didampingi Ketua DPW PSI, Sumut Nezar Djoeli, Sekretaris Delia Ulpa, Bendahara, Jere Fernando Halawa, anggota DPRD Medan dari PSI, Renville Napitupulu, serta pengurus dan kader PSI lainnya.
Sementara itu, Pemimpin Umum JP, Dr RE Nainggolan didampingi para tim ahli dan staf redaksi seperti Pdt Bambang Jonan, John Eron Lumbangaol, Edward Simanjuntak, Abdi Yanto, Murbanto Sinaga, Parapat Gultom, Nabari Ginting, dr Annita, Sanggam Hutagalung, Sihar Cibro, Ronald Naibaho, Agung Batahan, Pdt Edy Prayitno, Robert Benedictus, Anton Chono, Joshua Ginting, Johnson Rajagukguk, dan Pemimpin Redaksi, Toga Nainggolan, yang juga menjadi moderator diskusi.
Grace yang sebelum terjun ke politik sudah dikenal luas sebagai jurnalis dan pembawa acara berita di SCTV dan kemudian TVOne itu mengungkapkan penting sekali memiliki presiden, selaku kepala negara dan kepala pemerintahan, yang mempunyai komitmen kuat kepada toleransi dan keberagaman. “Tidak dalam bentuk jargon atau klaim, tetapi memang hadir dalam tindakan-tindakan yang dia ambil. Komitmen ini juga berarti tidak permisif, tidak berdiam diri apalagi mengambil manfaat dari pihak-pihak yang intoleran,” ujarnya. (Baca juga:Lebih Dulu Dikenal Sebagai Pembaca Acara Berita di Televisi)
Indonesia memiliki potensi luar biasa yang diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi empat besar dunia. Namun jika kita kemudian terjebak dalam isu-isu intoleransi, bahkan kita dengar terjadi di lingkungan pendidikan, bisa buyar itu proyeksi dan harapan,” katanya.
Pada bagian lain, Grace yang baru saja menyelesaikan pendidikan master di NUS, Singapura itu mengatakan partainya akan menyiapkan lebih banyak juru bicara dari Gen Z. “Anak muda di PSI bukan asesori, yang ditunjukkan hanya untuk citra atau pelengkap dan sebagainya, tetapi mereka yang menjadi motor utamanya. Merekalah penggerak partai,” katanya.
Meskipun fokus pada anak muda, dalam diskusi itu Grace tetap berharap ada masukan dan pandangan-pandangan dari para senior, seperti tim ahli Jurnal Pemerintahan. “Perlu ada sinergi, antara semangat dan idealisme anak muda, dengan kemampuan dan pengalaman menghadapi realita politik Indonesia,” katanya.
Sementara itu, RE Nainggolan menyampaikan apresiasi dan rasa salut atas konsistensi Grace Natalie dan PSI memperjuangkan komitmen keberagaman dan tata laksana pemerintahan yang bersih. “Kita mengikuti sepak terjang Sis Grace dan para anak muda yang tergabung di PSI, termasuk yang berhasil duduk di DPRD. Kita salut dan berharap sikap-sikap yang baik itu dipertahankan. Saatnya anak muda membuat perubahan,” katanya.
Hal senada juga disampaikan para peserta diskusi yang berlangsung akrab selama sekitar dua jam itu. “Meskipun sekarang sudah melakukan kaderisasi dan menjadi dewan pembina, publik tetap masih mengasosiasikan PSI dengan sosok Sis Grace. Jadi, tetap perlu harus banyak turun ke lapangan, mendengar dan berbicara dengan berbagai lapisan masyarakat, terutama para generasi muda yang akan menjadi pemilih dominan dalam pemilu mendatang,” kata Edward Simanjuntak.
Berkenalan dengan Caleg
Ketua DPW PSI Sumut Nezar Djoeli mengatakan Grace Natalie melakukan safari politik ke Sumatera Utara (Sumut) dengan melakukan pertemuan sejumlah tokoh masyarakat dan pemuda, termasuk sejumlah agenda pertemuan dengan kader PSI untuk memanaskan mesin struktur partai menghadapi Pemilu 2024.
“Kehadiran Sist Grace di awal Desember 2022 ini berbeda dengan kedatangan sebelumnya ke Sumut. Sebab Sist Grace langsung kami suguhkan wajah-wajah calon anggota DPR RI, DPRD Provinsi Sumut dan DPRD kabupaten/kota se-Sumut. Kami telah siapkan Caleg muda dengan semangat perubahan dan anti korupsi,” kata Nezar