MEDAN â€"
Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan dalam Hal ini Rektor Dr. Richard AM Napitupulu, ST, MT kembali menyerahkan penghargaan kepada
civitas akademika yang dinilai produktif dalam penelitian dan publikasi karya
ilmiah. Dalam penganugerahan tersebut, Prof. Junita Batubara, S.Sn., M.Sn.,
Ph.D. kembali mengukuhkan prestasinya dengan menyabet predikat Dosen Terbaik
Peringkat I kategori Penelitian dan Publikasi Karya Ilmiah. Capaian ini
mempertegas rekam jejak riset Prof. Junita yang konsisten, mengingat predikat
serupa telah diraihnya selama dua kali berturut-turut di lingkungan UHN.
Namun, di balik
selebrasi penyerahan piagam dan piala di atas panggung, akademisi senior ini
melayangkan kritik tajam. Menurut Prof. Junita, skema apresiasi yang dijalankan
universitas saat ini masih berorientasi pada rutinitas seremonial tahunan
ketimbang pembenahan iklim riset yang mendasar.
"Penghargaan
ini tentu patut disyukuri sebagai bentuk pengakuan atas kerja keras akademis.
Namun, kita harus jujur bahwa seremoni ini tidak boleh berhenti sekadar menjadi
ajang foto bersama yang selesai begitu panggung dibubarkan," ujar Prof.
Junita dengan nada tegas. Prof. Junita menilai, penyerahan piala tanpa
dibarengi dengan skema insentif riset yang berkelanjutan, kemudahan akses
fasilitas laboratorium, serta penyederhanaan birokrasi dana hibah hanya akan
menjadikan penghargaan tersebut sebagai gimik institusional. Menurutnya,
meneliti dan mempublikasikan karya di jurnal internasional bereputasi
membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit.
"Dosen
produktif yang berhasil membawa nama universitas ke kancah global membutuhkan
ekosistem pendukung yang nyata. Jika universitas menuntut kuantitas dan
kualitas publikasi tinggi, maka dukungan dana riset, perlindungan Hak Kekayaan
Intelektual (HKI), dan fasilitas riset harus disediakan secara proporsional.
Jangan sampai beban finansial dan administrasi justru menekan para
peneliti," lanjutnya.
Lebih jauh,
Prof. Junita juga mendesak pimpinan universitas untuk mengevaluasi dan membuka
transparansi indikator penilaian dosen terbaik secara terbuka. Hal ini penting
agar ajang penganugerahan tidak sekadar menjadi acara simbolis harian,
melainkan mampu memicu motivasi serta menjadi acuan standar baku bagi para
dosen muda.
"Tradisi
meneliti tidak akan tumbuh subur di kalangan dosen muda jika mereka tidak
melihat adanya kepastian iklim kerja dan jaminan keberlanjutan riset dari
institusi. Universitas HKBP Nommensen harus berani melangkah lebih jauh dari
sekadar merayakan seremoni, yakni bertransformasi menjadi research university
sejati yang menghargai proses dan dampak karya ilmiah bagi masyarakat
luas," pungkasnya.