GERAKAN BERSAMA KRISTUS (GBK) DAN GERAKAN BERDASAR KASIH (GBK) Dari Gelora Bung Karno, HKBP mengucap syukur atas 165 tahun pemeliharaan Tuhan, Oleh: Dr. dr. Leo Simanjuntak, SpOG (Dekan Fakultas Kedokteran Nommensen Medan)

Redaksi - Senin, 19 Oktober 2026 11:15 WIB
GERAKAN BERSAMA KRISTUS (GBK) DAN GERAKAN BERDASAR KASIH (GBK) Dari Gelora Bung Karno, HKBP mengucap syukur atas 165 tahun pemeliharaan Tuhan, Oleh: Dr. dr. Leo Simanjuntak, SpOG (Dekan Fakultas Kedokteran Nommensen Medan)
Redaksi
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas HKBP Nommensen Medan

Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) adalah ikon kebanggaan Indonesia. Diatas rumputnya yang hijau, sejarah olahraga bangsa ditulis, di tribunnya, gemuruh suporter Tim Nasional sepak bola menggema setiap kali Timnas Garuda bertanding. GBK identik dengan sorak-sorai, yel-yel, nyanyian dukungan, dan harapan akan kemenangan.

Namun pada Minggu, 18 Oktober 2026, GBK menghadirkan pemandangan yang berbeda. Tribun dan tempat sekitar lapangan dipenuhi lautan jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang datang dari berbagai pelosok Nusantara, bahkan perwakilan HKBP dari Amerika Serikat. Yang terdengar bukan teriakan gol, melainkan kidung pujian. Yang dirayakan bukan kemenangan sebuah pertandingan, melainkan kesetiaan Tuhan yang telah memelihara HKBP selama 165 tahun sejak berdirinya pada 7 Oktober 1861.

Ibadah Syukur dan Perjamuan Kudus

Hari itu jemaat berkumpul dalam ibadah syukur yang disertai perjamuan kudus, dipimpin langsung oleh Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST. Ibadah diawali prosesi pimpinan HKBP bersama para pendeta yang melangkah dengan pasti dan penuh sukacita menyusuri pinggir lapangan menuju altar sambil menyapa umat. Prosesi itu bukan sekadar seremoni pembuka akan tetapi seolah menggambarkan perjalanan panjang HKBP selama 165 tahun, perjalanan yang penuh pergumulan, baik internal maupun eksternal, tetapi yang di dalamnya Tuhan senantiasa mengasihi dan menuntun gereja-Nya.

Seluruh rangkaian acara dikemas dengan sangat rapi oleh panitia yang dipimpin ketua Panitia, Dr. Effendi M.S. Simbolon dan komandan lapangan bp.Dr.Martuama Saragi. Mengelola jemaat sebanyak itu dalam satu ibadah bukan pekerjaan ringan menata alur kedatangan, tata ibadah, pelayanan perjamuan kudus, hingga perpindahan ke sesi perayaan berjalan tertib. Bahkan jauh sebelumnya melaksanakan koordinasi dengan semua pihak terkait. Ketertiban itu sendiri adalah kesaksian bahwa persekutuan yang besar dapat dikelola dengan baik bila dilandasi kerja sama dan panggilan pelayanan.

Kidung dari Segala Generasi

Sebelum ibadah dimulai, diawali pra-ibadah menampilkan kidung pujian dari anak-anak sekolah minggu, remaja, koor ina, koor ama dan lansia HKBP. Kidung rohani juga dibawakan para artis ibu kota yaitu pasangan suami-istri Dorman Manik dan Rani Simbolon, Osen Hutasoit, Jun Munte, Tongam Sirait, Ruth Sitohang, Marsada Band, serta Amigos Band.

Momen yang paling mengharukan justru datang dari yang paling kecil dan yang paling senior. Anak-anak sekolah minggu bernyanyi dengan antusias yang tulus yang berjudul “Holan dakdanak nametmet au”. Para lansia HKBP memainkan angklung dengan penuh semangat “Dung sonang rohakku”. Naposobulung HKBP berkidung dan menari, dan koor ama pun tidak ketinggalan. Di GBK hari itu, tiga hingga empat generasi HKBP berdiri di panggung yang sama. Itulah gambaran gereja yang hidup yakni iman yang diwariskan, dirawat, dan dirayakan bersama lintas usia.

Doa syafaat

Dalam ibadah dipanjatkan doa syafaat dengan tema yang tertata rapi yaitu doa syafaat bagi HKBP dan panggilannya, bagi pelayan HKBP dan keluarganya, bagi anak-anak dan generasi muda, bagi Masyarakat, bangsa dan ciptaan Tuhan.

Bagi Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), tradisi doa syafaat tercermin kokoh dalam Konfesi dan Agenda HKBP. Sebagai gereja beraliran Lutheran, HKBP memandang jemaat bukan hanya sebagai penonton pasif, melainkan persekutuan kudus (communio sanctorum) yang bertanggung jawab merawat dunia melalui doa dan karya nyata. Doa syafaat adalah ekspresi tertinggi dari solidaritas kosmis dan eklesial yang merangkul gereja lokal, tubuh pelayan, masa depan generasi pewaris, serta tatanan sosial, bangsa-bangsa, dan keutuhan segenap alam semesta yang diciptakan Allah.

Melalui doa syafaat, HKBP memohon penyucian dan pembaruan yang terus-menerus (ecclesia reformata, semper reformanda). HKBP bersyafaat agar kehadirannya di tengah Indonesia dan dunia tidak sekadar menjadi institusi etnis yang eksklusif, melainkan teladan oikoumene yang memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan martabat manusia. HKBP dipanggil untuk menjadi garam dan terang yang berdampak nyata, bukan mercusuar yang sinarnya terkurung di dalam dinding-dinding gereja.

Syafaat bagi pelayan yang mencakup dua dimensi esensial yakni integritas rohani-intelektual dan ketahanan psikososial keluarga pelayan. Tekanan pelayanan pastoral di era modern sering kali membawa risiko kelelahan emosional (burnout), depresi, dan keterasingan. Lebih dari itu, keluarga pelayan yakni pasangan hidup dan anak-anak, sering kali harus mengorbankan privasi, stabilitas ekonomi, dan kenyamanan demi dinamika mutasi serta panggilan pelayanan. Menopang para pelayan dan keluarganya dalam doa adalah tindakan kasih gerejawi yang membentengi mereka dari keputusasaan, menjaga keutuhan rumah tangga mereka sebagai altar pertama pemuridan, serta memohonkan hikmat Roh Kudus agar firman yang diberitakan senantiasa hidup dan mengubahkan.

Doa syafaat bagi anak-anak dan generasi muda HKBP adalah doa pemagaran rohani dan doa profetik. Sebagaimana Yesus merangkul anak-anak dan memberkati mereka, gereja bersyafaat agar dasar-dasar iman yang ditaburkan melalui Sekolah Minggu, Katekisasi Sidi, dan persekutuan pemuda berakar kuat. Syafaat ini menuntut komitmen gereja untuk membekali mereka dengan nalar kritis yang berakar pada firman Tuhan, integritas etika Kristen, serta kepekaan panggilan untuk menjadi profesional, ilmuwan, pemimpin, dan pelayan yang memuliakan Kristus di ruang publik.

Syafaat bagi pemerintah dan para penyelenggara negara bukanlah bentuk legitimasi buta terhadap kekuasaan, melainkan doa kritis agar para pemimpin dikaruniai hikmat, takut akan Tuhan, dan keberanian moral untuk menegakkan hukum yang adil, membela kaum miskin dan tertindas, serta menjaga pluralisme dan kebebasan beragama di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bersyafaat bagi bangsa berarti menempatkan gereja sebagai hati nurani bangsa yang menggemakan suara kenabian di hadapan ketidakadilan.

Dua GBK dari Mimbar: Bersama Kristus, Berdasar Kasih

Dalam khotbahnya yang berlandaskan 2 Petrus 1:3â€"11, Oppui Ephorus mengajak jemaat melaksanakan dua gerakan yang singkatannya sama dengan nama stadion tempat berkumpul: Gerakan Bersama Kristus (GBK) dan Gerakan Berdasar Kasih (GBK). “Kuasa Ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh…” (2 Petrus 1:3)

Singkatan ini bukan sekadar retorika yang cerdas. Nas 2 Petrus 1:3â€"11 berbicara tentang anugerah Allah yang telah memberi segala sesuatu untuk hidup saleh, lalu memanggil orang percaya untuk dengan sungguh-sungguh menambahkan kepada iman kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara, dan puncaknya, kasih akan semua orang. Rangkaian itu berawal dari Kristus dan bermuara pada kasih. Maka “Gerakan Bersama Kristus” adalah titik berangkatnya, dan “Gerakan Berdasar Kasih” adalah wujud nyatanya.

Pesan ini relevan bagi HKBP di usia 165 tahun. Gereja yang besar tidak cukup hanya kuat secara jumlah dan organisasi namun harus terus bergerak bersama Kristus agar tidak kehilangan arah, dan bergerak berdasar kasih agar kehadirannya menjadi berkat, bukan hanya bagi warganya sendiri, tetapi juga bagi bangsa dan sesama.

Mengingat Kasih Tuhan bagi Tanah Batak

Ephorus juga mengingatkan jemaat akan kasih dan kebaikan Tuhan kepada suku Batak melalui pengutusan para misionaris ke Tanah Batak. Melalui pelayanan mereka, Injil hadir bersama sekolah, layanan kesehatan, dan pembaruan kehidupan, sehingga orang Batak dibebaskan dari jerat kebodohan dan kemiskinan serta dapat menikmati anugerah Tuhan yang berlimpah seperti yang terlihat saat ini. Tak terhitung orang-orang Batak yang diberkati Tuhan yang melayani di pemerintahan, TNI, Polri, BUMN, Perusahaan nasional bahkan internasional dll. Dengan kata lain orang batak tampil disegala lini kepakaran membangun peradaban.

Ingatan ini menjadi refleksi yang dalam. Oppui I.L. Nommensen, sang Rasul Batak, tidak sempat menyaksikan sukacita di GBK ini, bahkan mungkin tidak pernah membayangkannya. Ia datang ke lembah Silindung dengan risiko besar dan penolakan yang keras. Benih yang ditanam dengan air mata itu kini tumbuh menjadi gereja yang besar, tersebar di seluruh Indonesia hingga ke luar negeri.

Perayaan dan Sambutan Panitia

Usai ibadah, acara berlanjut dengan perayaan yang diisi hiburan dari para artis yang sama, kini membawakan lagu-lagu populer. Jemaat tampak antusias mengikutinya banyak yang turut bernyanyi dan bergembira bersama keluarga dan sesama warga jemaat.

Dalam sambutannya, Dr. Effendi M.S. Simbolon menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan jemaat HKBP. Ia juga menyampaikan harapan agar kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan setiap tahun. Harapan tersebut patut dipertimbangkan dengan bijak oleh pimpinan dan seluruh warga HKBP, sambil menimbang bentuk, skala, dan manfaat yang paling tepat bagi pelayanan gereja ke depan. Selain itu Dr.Effendi M.S.Simbolon memberikan apresiasi kepada tamu undangan yang hadir Wamenkumham Prof.Dr.Otto Hasibuan beserta ibu, Bupati Tapanuli Utara DR.Jonius Taripar Hutabarat, bupati Samosir Vandiko Gultom, ketua Yayasan kesehatan HKBP Letjen(Purn).Hinsa Siburian dan tokoh-tokoh lain. Tak lupa juga disampaikan terima kasih kepada presiden RI, TNI, Polri dan semua pihak terkait seperti bank BTN, pengelola GBK, dan para sponsor pendukung acara serta kepada artis-artis ibu kota yang mendukung acara baik saat pra-ibadah dan pada saat perayaan.

Ketika Kursi Kehormatan Tetap Kosong

Ada satu hal yang menarik untuk dicermati dari perayaan ini. Dalam tertib acara tercantum bahwa Presiden Republik Indonesia akan hadir dan menyapa jemaat. Pencantuman itu tentu bukan tanpa dasar, panitia pasti telah memperoleh kepastian sebelumnya sehingga menyusun rangkaian acara sedemikian rupa. Namun, pada hari itu Presiden berhalangan hadir, dan alasannya tidak disampaikan secara terbuka kepada jemaat yang hadir dan menantikan.

Yang justru menyentuh adalah sikap jemaat. Sepanjang acara hingga tuntas, tidak terdengar pertanyaan mengenai ketidakhadiran Presiden. Setelah ibadah ditutup pun, tidak ada jemaat di sekitar tempat saya duduk yang mempersoalkannya. Ketika jemaat saling bersalaman, sebagaimana kebiasaan setelah ibadah, yang tampak adalah wajah-wajah penuh sukacita dan ceria, tanpa sedikit pun raut kecewa. Sapaan hangat terdengar bersahut-sahutan: “Selamat hari Minggu, amang! Selamat hari Minggu, inang!”

Para panitia pun tampak saling bersalaman dengan gembira, terutama Ketua Panitia, Dr. Effendi M.S. Simbolon, yang terlihat sangat bersukacita. Bahkan ketika puluhan ribu jemaat berjalan keluar dari GBK dengan tertib, tidak terdengar keluhan sedikit pun. Semua wajah memancarkan sukacita.

Mengapa demikian? Karena jemaat datang dengan satu tujuan yakni beribadah kepada Tuhan dan menerima Perjamuan Kudus. Tujuan itu telah tercapai sepenuhnya. Ibadah dan perjamuan kudus yang dilayani langsung oleh pimpinan tertinggi HKBP, Ephorus, adalah momen langka, apalagi dialami bersama-sama oleh puluhan ribu jemaat dalam satu tempat. Sukacita jemaat tidak bergantung pada siapa yang hadir di podium kehormatan, melainkan pada perjumpaan dengan Tuhan di dalam ibadah. “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Matius 22:21).

Sikap jemaat hari itu mencerminkan ajaran Tuhan Yesus tersebut. Kepada Allah, jemaat telah memberikan apa yang patut yakni syukur, pujian, dan hati yang menyembah. Kepada pemerintah, jemaat tetap memberi hormat. Presiden tetap dihormati meskipun tidak hadir, dan itu tampak jelas dari tidak adanya kekecewaan maupun ucapan yang merendahkan. Inilah kedewasaan iman sekaligus kedewasaan berwarga negara yakni menghormati pemimpin bangsa tanpa menggantungkan sukacita rohani pada kehadirannya.

Menanggapi Kritik dengan Kepala Dingin

Perayaan sebesar ini tentu tidak lepas dari kritik. Segelintir jemaat, melalui media sosial, menilai acara ini menghamburkan uang. Sebagian lagi berpendapat perayaan lebih tepat dilaksanakan di Tarutung, tempat kantor pusat HKBP berada.

Kritik semacam itu perlu didengar, bukan ditepis. Ia lahir dari kepedulian terhadap gereja, dan mengingatkan bahwa setiap rupiah persembahan adalah amanah. Justru karena itu, transparansi dan akuntabilitas pendanaan, termasuk sumber dana dan rincian penggunaannya, akan menjadi jawaban terbaik sekaligus teladan tata kelola gereja yang baik.

Namun perlu juga dilihat dari sisi yang lain. Perayaan ini bukan pertunjukan kesombongan, melainkan semata-mata tanda ucapan syukur HKBP atas pemeliharaan Tuhan selama 165 tahun, di mana HKBP semakin berkembang hingga ke luar negeri. Jakarta dan sekitarnya kini menjadi rumah bagi sangat banyak warga HKBP, dan GBK menyediakan ruang yang memungkinkan persekutuan sebesar itu berkumpul dalam satu ibadah. Tarutung tetap memiliki tempat yang tak tergantikan sebagai jantung sejarah dan pusat pelayanan HKBP, berkumpul di ibu kota tidak mengurangi kehormatan itu. Keduanya dapat saling melengkapi yakni Tarutung sebagai akar, Jakarta sebagai salah satu ladang tempat buahnya kini dipanen.

Ukuran sejati dari perayaan ini pada akhirnya bukan pada megahnya stadion, melainkan pada apa yang terjadi sesudahnya. Apakah semangat “Gerakan Bersama Kristus” dan “Gerakan Berdasar Kasih” itu terbawa pulang ke huria-huria, ke rumah tangga, ke tempat kerja, dan ke tengah masyarakat? Bila ya, maka setiap biaya dan tenaga yang dikeluarkan telah menjadi investasi rohani yang berharga.

Bagi saya pribadi yang baru pertama sekali menghadiri ibadah raya HKBP di GBK, ada suasana batin yang tak terlukiskan. Gema suara puluhan ribu jemaat saat melantunkan lagu pujian terasa sangat menyentuh kalbu dan membuat “marsisir imbulu”. Saya mengimani Tuhan sangat senang mendengar pujian jemaat HKBP di GBK malam itu. Seandainya ibadah raya seperti itu dilaksanakan Kembali, saya berjanji dalam hati seandainya Tuhan memberi kesempatan saya akan hadir lagi.

Penutup

Pada 18 Oktober 2026 tepat hari Minggu, Gelora Bung Karno menjadi saksi bahwa sebuah gereja yang lahir dari benih kecil di Tanah Batak telah bertumbuh menjadi persekutuan besar yang melintasi pulau dan benua. Seperti prosesi para pendeta yang melangkah dengan pasti di awal ibadah, HKBP diajak terus melangkah: bersama Kristus, berdasar kasih.

Selamat Ulang Tahun HKBP ke-165, terpujilah Tuhan Yesus Kristus selamanya, Haleluya.


Penulis
: Redaksi
Editor
: Redaksi