ACADEMICA : KAPTEN TIMNAS: Mencari Pemimpin UHKBPN Periode 2027-2031, Oleh: Dr. dr. Leo Simajntak, SpOG (Dekan FK UHN Medan)

Redaksi - Jumat, 16 Oktober 2026 17:09 WIB
ACADEMICA : KAPTEN TIMNAS: Mencari Pemimpin UHKBPN Periode 2027-2031, Oleh: Dr. dr. Leo Simajntak, SpOG (Dekan FK UHN Medan)
Redaksi
Dr. dr. Leo Simajuntak, SpOG Dekan Fakultas Kedokteran Universitas HKBP Nommensen Medan

PROLOG

“Ide tulisan ini saya renungkan pada malam hari yang dingin setelah seharian lelah bekerja di kampus dan melayani pasien di rumah sakit dan diklinik praktek mandiri. Ditambah lagi setelah berdiskusi lewat telepon seluler dengan seorang sahabat yang aktif, cerdas dan sangat memberi perhatian akan kondisi UHKBPN”.

Universitas HKBP Nommensen (UHKBPN) akan memilih rektor untuk periode 2027â€"2031. Pemilihan ini berlangsung di tengah krisis nyata yakni mahasiswa baru turun 53,1% dalam lima tahun dan mengancam keberlanjutan finansial institusi. Di sivitas akademika menguat opini bahwa diperlukan penyegaran. Digunakan metafora “Kapten Timnas” yakni pemimpin yang ikut bermain di lapangan, mengenakan ban kapten atas nama seluruh tim, dan bermain untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Tinjauan ini membahas kriteria dan prinsip, bukan menilai atau mendukung calon tertentu. Tujuannya adalah membantu seluruh pemangku kepentingan memilih dengan jernih, jujur dan bertanggungjawab di hadapan Tuhan dan sesama.

PENDAHULUAN

Dalam waktu dekat UHKBPN akan memilih rektor untuk periode 2027â€"2031. Masa jabatan empat tahun ini berbeda dari banyak perguruan tinggi yang menetapkan lima tahun per periode. Perbedaan ini membawa konsekuensi penting yakni tidak ada waktu untuk masa belajar yang panjang, rektor terpilih harus siap bekerja sejak hari pertama.

Di kalangan sivitas akademika menguat opini bahwa UHKBPN membutuhkan penyegaran. Alasannya beragam, kebutuhan energi dan perspektif baru dan kekhawatiran bahwa cara-cara lama tidak lagi memadai menghadapi tantangan baru. Opini penyegaran ini sah dan perlu didengar. Namun penyegaran perlu dipahami dengan tepat. Penyegaran bukan sekadar mengganti orang, tetapi mengganti cara yaitu cara berpikir, cara memutuskan, dan cara melayani. Seorang pemimpin baru yang membawa cara lama tidak menyegarkan apa pun, sebaliknya, kepemimpinan yang sungguh-sungguh berbenah dapat menghadirkan kesegaran. Karena itu, pertanyaan utamanya bukan “baru atau lama”, melainkan “siapa yang paling mampu membawa UHKBPN melewati krisis ini”.

1. Tantangan yang Dahsyat

Tantangan UHKBPN saat ini tidak ringan. Mahasiswa baru turun dari 2.838 orang (2021) menjadi 1.331 orang (2025), atau âˆ'53,1%, dan seluruh fakultas mengalami penurunan. Per 10 September 2026, daftar ulang baru mencapai 41,2% dari target Yayasan, dan konversi pendaftar ke daftar ulang turun menjadi 59,9%. Bagi perguruan tinggi swasta yang sebagian besar pendapatannya bergantung pada mahasiswa, penurunan ini langsung mengancam keberlanjutan finansial institusi.

Sepanjang pengamatan dan yang dirasakan saat ini bahwa UHKBPN berjalan dengan leadership yang minim inovasi dan kreasi selain tentunya ada faktor-faktor lain. Dengan demikian akar masalah pertama secara langsung menyangkut kepemimpinan. Karena itu, pemilihan rektor periode ini bukan rutinitas administratif, melainkan keputusan strategis yang menentukan arah dan, dalam batas tertentu, keberlangsungan institusi.

2. Mengapa “Kapten Timnas”?

Metafora kapten tim nasional dipilih karena beberapa alasan. Kapten bukan penonton atau pelatih di pinggir lapangan akan tetapi ikut bermain, berlari, dan berkeringat bersama tim. Mengenakan ban kapten bukan untuk dirinya, tetapi sebagai wakil seluruh tim. Tim nasional terdiri atas pemain dari berbagai klub yang harus disatukan, sebagaimana universitas terdiri atas berbagai fakultas, unit, dan generasi. Dan tim nasional bermain untuk sesuatu yang lebih besar dari klub mana pun, yaitu bangsa, sejalan dengan motto Pro Deo et Patria, bagi Tuhan dan Ibu Pertiwi.

Metafora ini juga dipadukan dengan gambaran nakhoda. UHKBPN adalah bagaikan kapal yang harus dikemudikan oleh nakhoda yang sungguh memahami laut, angin, dan bintang, bukan oleh mereka yang paling pandai merebut kemudi. Kapal UHKBPN sedang menghadapi badai yang membutuhkan nakhoda yang cakap, gagah berani dan teruji, bukan sekadar yang popular apalagi “yang direstui”.

EMPAT BELAS WAJAH KAPTEN

Bagian ini menguraikan empat belas wajah kapten atau nakhoda yang dibutuhkan UHKBPN. Wajah ketiga belas, Pro Deo et Patria, adalah fondasi yang menyatukan dua belas wajah sebelumnya; wajah keempat belas, pilihan Tuhan, menempatkan seluruh proses pemilihan di bawah kedaulatan Tuhan. Setiap wajah dilengkapi pertanyaan uji yang dapat diajukan kepada calon rektor dalam penyampaian visi dan misi atau uji publik.

1. Kapten adalah Rekam Jejak

Kepercayaan dibangun dari apa yang sudah dikerjakan, bukan dari apa yang dijanjikan. Kredibilitas adalah fondasi kepemimpinan, dan kredibilitas lahir dari konsistensi antara kata dan perbuatan: do what you say you will do. Dalam masa krisis dengan masa jabatan hanya empat tahun, UHKBPN tidak dapat mempertaruhkan diri pada janji yang belum teruji.

Rekam jejak yang perlu dibaca mencakup capaian nyata di unit yang pernah dipimpin, kemampuan membenahi masalah sulit, integritas dalam mengelola keuangan dan kewenangan, serta cara memperlakukan orang lain ketika tidak ada yang melihat.

Pertanyaan uji: Apa capaian terukur yang pernah Anda hasilkan di unit yang Anda pimpin, dan bagaimana Anda menghadapi kegagalan?

2. Kapten adalah Generator

Generator menghasilkan energi ketika aliran listrik padam. Kapten yang baik menyalakan semangat tim saat tertinggal skor. Harus dibedakan kepemimpinan transaksional, yang bertukar imbalan dengan kepatuhan, dan kepemimpinan transformasional, yang membangkitkan motivasi dan nilai yang lebih tinggi. Pemimpin transformasional menginspirasi, merangsang gagasan, dan memperhatikan setiap anggota tim.

UHKBPN membutuhkan generator, bukan sekadar pengelola rutinitas, pemimpin yang mampu menggerakkan dosen, tendik, dan mahasiswa untuk berlari bersama mengejar target Renstra.

Pertanyaan uji: Bagaimana Anda akan menggerakkan insan kampus yang lelah dan pesimis untuk kembali bersemangat?

3. Kapten adalah “Mata Air di Padang Gurun”

Di padang gurun, mata air adalah sumber kehidupan. Ketika institusi berada di masa kering, penuh tekanan, dan kehilangan harapan, pemimpin dipanggil menjadi sumber kesegaran, memberi semangat, solusi, dan kehidupan rohani.

Mata air tidak menyedot air dari sekitarnya akan tetapi mengalirkan air. Pemimpin yang menjadi mata air memberi lebih banyak daripada yang diambil dari institusi. Inilah makna penyegaran yang sejati.

Pertanyaan uji: Apa yang akan Anda berikan kepada UHKBPN, bukan apa yang akan Anda peroleh darinya?

4. Kapten adalah Penyambung Lidah

Soekarno dikenal sebagai “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Kapten tim adalah penyambung lidah antara pemain dan wasit, antara tim dan pelatih. Rektor adalah penyambung lidah sivitas akademika kepada Yayasan, HKBP, pemerintah, dan Masyarakat, nasional dan internasional, sekaligus penyambung lidah visi institusi kepada seluruh insan kampus.

Penyambung lidah yang baik mendengar lebih dulu sebelum berbicara, dan menyampaikan aspirasi dengan jujur, bukan hanya yang enak didengar atasan.

Pertanyaan uji: Bagaimana Anda memastikan suara dosen, tendik, dan mahasiswa sampai ke pengambil keputusan?

5. Kapten adalah Simbol Institusi

Perilaku pemimpin, yaitu apa yang diperhatikan, diukur, dihargai, dan diteladankan, adalah mekanisme utama pembentuk budaya organisasi. Rektor adalah simbol hidup UHKBPN,cara berbicara, berpakaian, beribadah, dan mengambil keputusan dibaca sebagai wajah institusi.

Simbol yang kuat menyatukan, simbol yang retak memecah. Pemimpin yang menjadi simbol harus mampu berdiri di atas semua golongan, fakultas, dan kelompok.

Pertanyaan uji: Nilai apa yang ingin Anda simbolkan, dan bagaimana Anda menjaganya dalam keputusan sulit?

6. Kapten adalah Duta Institusi

Seorang duta mewakili pihak yang mengutusnya, bukan dirinya sendiri. Rektor adalah duta UHKBPN di hadapan gereja, pemerintah, dunia usaha, alumni, calon mahasiswa, dan mitra internasional.

Dalam krisis mahasiswa baru, peran duta menjadi sangat konkret yakni membuka pintu kemitraan, meyakinkan orang tua calon mahasiswa, menggalang dukungan alumni dan jemaat, serta membawa nama UHKBPN ke tingkat nasional dan internasional.

Pertanyaan uji: Jejaring apa yang Anda miliki dan bagaimana Anda akan memakainya untuk UHKBPN?

7. Kapten adalah “Cleaning Service” Institusi

Metafora ini mungkin mengejutkan, tetapi sangat alkitabiah. Yesus, Tuhan dan Guru, membasuh kaki murid-murid-Nya. Nehemia, setelah kembali ke Yerusalem, membersihkan bilik Bait Allah yang telah disalahgunakan. Pemimpin sejati seharusnya adalah sebagai pelayan lebih dahulu (servant first).

Rektor harus berani membersihkan yang kotor, praktik yang tidak berintegritas, birokrasi yang menghambat, konflik lama yang membebani, dan budaya pamrih. Pekerjaan ini tidak populer dan sering tidak terlihat, tetapi tanpa itu tidak ada pembaruan yang bertahan.

Pertanyaan uji: Apa yang menurut Anda harus “dibersihkan” di UHKBPN, dan apakah Anda siap menanggung risikonya?

8. Kapten adalah “Guaranty Card” Institusi

Kartu garansi adalah jaminan mutu, pembeli percaya karena ada yang menanggung. Rektor adalah jaminan bagi orang tua yang menitipkan anaknya, bagi Yayasan yang menitipkan aset, bagi mitra yang menandatangani kerja sama, dan bagi pemerintah yang memberi izin.

Jaminan hanya bernilai bila penjaminnya dapat dipercaya. Integritas pribadi dan tata kelola yang bersih (Good University Governance) adalah isi dari kartu garansi itu.

Pertanyaan uji: Apa jaminan Anda bahwa kepercayaan orang tua, Yayasan, dan mitra tidak akan disia-siakan?

9. Kapten adalah Etalase Institusi

Etalase adalah tempat orang melihat isi toko sebelum masuk. Yesus berkata: “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi”. Rektor adalah etalase UHKBPN dimana publik menilai mutu universitas dari kualitas, keteladanan, dan komunikasi pemimpinnya.

Di era media sosial, etalase ini terbuka setiap saat. Pemimpin perlu mampu menampilkan UHKBPN secara menarik dan jujur, karena etalase yang memikat tetapi tidak sesuai isi akan merusak kepercayaan.

Pertanyaan uji: Bagaimana Anda akan menampilkan UHKBPN kepada generasi calon mahasiswa saat ini?

10. Kapten adalah Masa Depan dan Harapan

“Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu ... rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11). Firman ini disampaikan kepada umat yang sedang dalam pembuangan. Harapan justru paling dibutuhkan pada masa sukar.

Rektor periode 2027â€"2031 harus mampu menghadirkan harapan yang realistis, bukan janji kosong, tetapi rencana yang dapat dipercaya.

Pertanyaan uji: Seperti apa UHKBPN pada 2031 bila Anda memimpin, dan apa langkah pertama Anda dalam 100 hari?

11. Kapten adalah Kompas

“Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat” (Amsal 29:18). Tanpa arah yang jelas, organisasi tercerai-berai. Kompas tidak memberi peta yang lengkap, tetapi selalu menunjuk arah yang benar. Kemampuan menginspirasi visi bersama (inspire a shared vision) sebagai salah satu praktik inti kepemimpinan.

Rektor terpilih bertugas memegang kompas yaitu visi dan misi dengan teguh, terutama ketika tekanan jangka pendek menggoda untuk berbelok.

Pertanyaan uji: Bagaimana Anda menjaga arah Renstra ketika menghadapi tekanan jangka pendek?

12. Kapten adalah “Orangtua”

Paulus menggambarkan pelayanannya: “Kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya” (1 Tesalonika 2:7), dan “seperti bapa terhadap anak-anaknya” (1 Tesalonika 2:11). Orangtua mengasuh, menegur, melindungi, dan menyiapkan anak-anaknya untuk masa depan.

Dalam budaya Batak Toba, sosok natua-tua dihormati karena kebijaksanaan dan kemampuannya mengayomi. Rektor sebagai orangtua menjadi tempat mengadu, penengah konflik, dan pelindung bagi yang lemah, tanpa pilih kasih.

Pertanyaan uji: Bagaimana Anda akan memperlakukan mereka yang tidak mendukung Anda dalam pemilihan?

13. Kapten adalah Pro Deo et Patria

Pemain tim nasional bermain untuk lambang di dadanya, bukan untuk nama di punggungnya. Bagi UHKBPN, lambang itu adalah motto Pro Deo et Patria, bagi Tuhan dan Ibu Pertiwi. Motto ini adalah sebagai pernyataan tujuan lembaga yakni keberadaan UHKBPN dibenarkan oleh misinya, bukan sekadar oleh kelangsungan hidupnya. Kapten adalah perwujudan hidup dari motto itu. Ia tidak memimpin untuk dirinya, keluarganya, marganya, atau kelompoknya, tetapi untuk Tuhan dan bangsa.

Pro Deo berarti kepemimpinan dipahami sebagai panggilan dan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23). Kapten yang Pro Deo bekerja dengan takut akan Allah, jujur ketika tidak diawasi, dan rendah hati ketika berhasil. Ia menyadari bahwa jabatan rektor adalah titipan, bukan milik.

Pro Patria berarti kepemimpinan diarahkan bagi kesejahteraan masyarakat dan bangsa. Kepada umat di pembuangan, Tuhan berfirman: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yeremia 29:7). Yesus juga mengajarkan kesetiaan ganda yang seimbang yaitu “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Matius 22:21).

UHKBPN diresmikan pada 1954, di masa awal kemerdekaan, dan meneruskan warisan Nommensen yang mempersatukan Injil, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Kapten yang Pro Patria memastikan universitas tetap menjadi berkat bagi Tanah Batak, Sumatera Utara, dan Indonesia dimana lulusannya melayani, risetnya menjawab persoalan bangsa, dan pengabdiannya menyentuh desa dan jemaat.

Pro Deo et Patria adalah fondasi dari dua belas wajah sebelumnya. Rekam jejak, energi, jejaring, dan kecakapan hanya bernilai bila diarahkan kepada Tuhan dan bangsa. Tanpa fondasi ini, kepemimpinan mudah tergelincir menjadi pencarian hasangapon (kehormatan) pribadi atau alat kepentingan kelompok.

Pertanyaan uji: Untuk siapa Anda mencalonkan diri, dan bagaimana setiap keputusan Anda akan diuji oleh Pro Deo et Patria?

14. Kapten adalah Pilihan Tuhan

Iman Kristen mengakui bahwa Tuhan berdaulat atas kepemimpinan: “Dia memecat raja dan mengangkat raja” (Daniel 2:21), dan “tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah” (Roma 13:1). Kepemimpinan sejati bermula dari panggilan, bukan dari ambisi: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yohanes 15:16). Bagi UHKBPN, universitas yang lahir dari gereja, pemilihan rektor bukan sekadar kontestasi suara, tetapi pergumulan iman untuk mencari kehendak Tuhan.

Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan bekerja melalui proses manusia, bukan di luarnya. Ketika para rasul mencari pengganti Yudas, mereka menetapkan kriteria, mengajukan calon, lalu berdoa: “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih” (Kisah Para Rasul 1:24). Daud dipilih dan diurapi Tuhan melalui Samuel (1 Samuel 16:13), tetapi baru menjadi raja atas seluruh Israel ketika para tua-tua mengurapinya (2 Samuel 5:3). Pilihan Tuhan dikonfirmasi oleh komunitas melalui proses yang tertib dan jujur.

Tanda-tanda pilihan Tuhan dapat dikenali, antara lain:

· kerendahan hati dan rasa tidak layak di hadapan tugas besar, seperti Musa (Keluaran 3:11) dan Gideon (Hakim-hakim 6:15),

· kesediaan diutus, “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8),

· buah pelayanan yang nyata, sebab “dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Matius 7:16) dan

· pengakuan dari komunitas yang dilayani.

Namun keyakinan ini juga mengandung peringatan. Pertama, tidak ada calon yang boleh mengklaim diri sebagai “pilihan Tuhan” untuk meraih suara, klaim semacam itu justru bertentangan dengan kerendahan hati yang menjadi tanda panggilan. Kedua, pilihan Tuhan bukan cek kosong. Saul dipilih Tuhan, tetapi ditolak karena tidak taat, “Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja” (1 Samuel 15:23). Jabatan adalah amanah yang terus dipertanggungjawabkan. Ketiga, mengakui hasil pemilihan sebagai bagian dari kedaulatan Tuhan berarti yang terpilih menerima dengan gentar dan rendah hati, yang tidak terpilih menerima dengan lapang hati, dan seluruh sivitas bersatu mendukung kapten yang ditetapkan.

Pertanyaan uji: Apa yang membuat Anda yakin terpanggil, dan bagaimana Anda akan bersikap bila bukan Anda yang terpilih?

PANDANGAN FILOSOFIS

1. Nakhoda yang Memahami Laut

Plato menggambarkan kapal yang awaknya berebut kemudi, masing-masing merasa layak menjadi nakhoda meski tidak pernah mempelajari seni navigasi. Sementara itu, navigator sejati yang memahami musim, langit, bintang, dan angin justru diremehkan. Pesan Plato tajam, kepemimpinan menuntut pengetahuan dan kebijaksanaan, bukan sekadar kemampuan memenangkan dukungan. Bagi pemilihan rektor, ini mengingatkan agar kompetensi memimpin universitas di masa krisis menjadi pertimbangan utama.

2. Kebijaksanaan Praktis (Phronesis)

Aristoteles membedakan pengetahuan teoretis dari phronesis, yaitu kebijaksanaan praktis untuk bertindak tepat dalam situasi konkret. Pemimpin yang baik bukan hanya tahu apa yang benar, tetapi tahu bagaimana, kapan, dan kepada siapa harus bertindak. Rektor di masa krisis membutuhkan phronesis untuk menimbang antara efisiensi dan keadilan, antara perubahan dan stabilitas.

3. Trilogi Kepemimpinan

Ki Hadjar Dewantara merumuskan trilogi kepemimpinan yang sangat sesuai dengan metafora kapten yakni ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah membangun semangat), dan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Kapten timnas melakukan ketiganya, memimpin di depan saat menyerang, menggerakkan di tengah saat membangun permainan, dan mendorong dari belakang saat tim bertahan.

4. Kepemimpinan Transformasional dan Melayani

Organisasi yang perlu berubah membutuhkan pemimpin transformasional yang membangkitkan visi dan nilai bersama, bukan hanya pertukaran kepentingan. Dibutuhkan kepemimpinan yang melayani, dengan ujian, apakah orang-orang yang dipimpin bertumbuh menjadi lebih sehat, lebih bijak, lebih bebas, dan lebih mampu melayani?

5. Kepemimpinan Adaptif

Harus dibedakan masalah teknis yang dihadapi yaknimasalah yang dapat diselesaikan dengan pengetahuan yang sudah ada, dengan masalah atau tantangan adaptif, yang menuntut perubahan nilai, kebiasaan, dan cara kerja orang-orang di dalam organisasi. Penurunan mahasiswa baru di UHKBPN adalah tantangan adaptif yang tidak selesai hanya dengan menambah promosi, tetapi menuntut perubahan budaya layanan, kurikulum, dan tata kelola. Pemimpin adaptif berani mengajak organisasi menghadapi kenyataan yang tidak nyaman dan mengelola ketegangan perubahan secara bertahap.

6. Kepemimpinan Level 5

Organisasi yang berhasil berubah dari baik menjadi hebat dipimpin oleh pemimpin Level 5, yaitu perpaduan antara kerendahan hati pribadi dan tekad profesional yang kuat. Pemimpin semacam ini mengarahkan ambisinya bagi institusi, bukan bagi dirinya, memberi pujian kepada tim ketika berhasil dan bercermin pada dirinya sendiri ketika gagal.

7. Penyegaran dalam Perspektif Filosofis

Dari sudut pandang filosofis, ketegangan antara perubahan dan kesinambungan bukan hal yang harus dihindari, melainkan dikelola. Harus dipahami dan selalu diingatkan bahwa perubahan adaptif selalu mengandung kehilangan dan karenanya menimbulkan resistensi. Penyegaran yang bijaksana mempertahankan apa yang esensial (misi, nilai, dan arah Renstra) sambil berani mengubah apa yang tidak lagi efektif (cara kerja, budaya, dan prioritas).

PANDANGAN SOSIOLOGIS BATAK TOBA

UHKBPN tumbuh di tengah masyarakat Batak Toba dan dalam lingkungan HKBP. Nilai-nilai sosial Batak Toba membentuk cara orang memandang pemimpin, cara memberi hormat, dan cara mengambil keputusan bersama. Pemahaman atas nilai-nilai ini membantu memilih pemimpin yang diterima secara kultural tanpa terjebak dalam primordialisme.

1. Dalihan Na Tolu

Dalihan Na Tolu (tiga tungku) adalah struktur dasar hubungan sosial Batak Toba yang terdiri atas hula-hula (pihak pemberi istri), dongan tubu (kerabat semarga), dan boru (pihak penerima istri). Tiga prinsip sikapnya dikenal luas yakni somba marhula-hula (hormat kepada hula-hula), manat mardongan tubu (berhati-hati dan saling menjaga dengan saudara semarga), dan elek marboru (membujuk dan mengasihi boru).

Keistimewaan Dalihan Na Tolu adalah bahwa setiap orang menempati ketiga posisi tersebut dalam situasi yang berbeda. Seorang raja pada satu kesempatan adalah boru pada kesempatan lain. Tidak ada yang selalu di atas. Bagi kepemimpinan universitas, prinsip ini mengajarkan tiga sikap:

Prinsip

Makna adat

Penerapan bagi rektor

Somba marhula-hula

Hormat kepada pihak yang dihormati dan pemberi berkat

Hormat kepada Yayasan, HKBP, pendiri, dan para senior; menerima nasihat

Manat mardongan tubu

Berhati-hati, saling menjaga, menghindari konflik dengan sesama

Menjaga kebersamaan dengan rekan sejawat, pimpinan fakultas, dan Senat

Elek marboru

Membujuk, mengasihi, dan memperhatikan pihak yang melayani

Mengasihi dan memperhatikan dosen, tendik, dan mahasiswa; membujuk, bukan memaksa

2. Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon

Ketiga nilai ini dapat menjadi kekuatan, tetapi juga godaan bagi pemimpin. Jabatan rektor dapat dicari demi hasangapon pribadi. Bagi rektor terpilih ketiganya diarahkan kepada institusi: hamoraon berarti kesehatan finansial UHKBPN, hagabeon berarti lulusan dan generasi penerus yang berhasil, dan hasangapon berarti kehormatan UHKBPN di mata gereja, bangsa, dan dunia.

3. Sahala: Wibawa yang Diakui

Dalam kosmologi Batak Toba, sahala adalah wibawa atau kekuatan rohani yang membuat seseorang dihormati, misalnya sahala harajaon (wibawa kepemimpinan). Sahala tidak dapat dipaksakan namun diakui oleh komunitas karena keteladanan, kebijaksanaan, dan kemampuan memimpin. Dalam bahasa modern, sahala dekat dengan kredibilitas dan legitimasi. Rektor membutuhkan sahala agar keputusannya diterima, terutama keputusan sulit di masa krisis.

4. Natua-tua dan Raja Parhata

Masyarakat Batak menghormati natua-tua, orang tua yang bijak dan mengayomi, serta tokoh yang mampu berbicara dan menyelesaikan perkara dalam musyawarah adat. Pemimpin dihormati bukan karena memerintah, tetapi karena mampu pasaut hata, yaitu menuntaskan pembicaraan dan mendamaikan pihak-pihak yang berbeda. Ini sejalan dengan wajah kapten sebagai orangtua dan penyambung lidah.

5. Marsiadapari dan Kerja Bersama

Marsiadapari, tradisi saling membantu dalam bekerja di sawah secara bergiliran, menggambarkan semangat gotong royong. Pemimpin yang baik menghidupkan semangat ini, unit-unit saling membantu, bukan saling bersaing secara ego sektoral.

6. Jebakan Primordialisme

Ikatan marga dan kekerabatan adalah kekuatan sosial Batak Toba, tetapi dalam pemilihan pemimpin institusi akademik dapat menjadi jebakan. Dukungan yang diberikan karena kesamaan marga, kampung, atau kelompok, bukan karena kompetensi dan integritas, bertentangan dengan prinsip Alkitab (Kel 18:21) dan dengan tata kelola universitas yang baik. Dalihan Na Tolu sendiri mengajarkan bahwa setiap orang terhubung dengan semua pihak; karena itu pemimpin yang dipilih harus mampu menjadi milik semua, bukan milik satu kelompok.

Pepatah: “Pantun hangoluan, tois hamagoan”, kesantunan membawa kehidupan, keangkuhan membawa kebinasaan. Pemimpin yang santun dan rendah hati menghidupkan institusi, pemimpin yang angkuh merusaknya.

IMPLIKASI MASA JABATAN EMPAT TAHUN

• Siap sejak hari pertama. Calon perlu menyajikan rencana 100 hari yang konkret dan selaras dengan tahun pertama Renstra.

• Tim inti yang siap. Dengan waktu terbatas, kemampuan membentuk tim wakil rektor dan pimpinan unit yang kompeten menjadi sangat menentukan.

• Kesinambungan. Rektor terpilih adalah pemilik Renstra 2027â€"2031, kesinambungan program lebih penting daripada memulai dari nol.

• Kaderisasi. Rektor periode ini juga bertanggung jawab menyiapkan pemimpin berikutnya, sebagaimana Musa menyiapkan Yosua.

PRINSIP PROSES YANG SEHAT

a. Kriteria diumumkan terbuka sebelum pencalonan.

b. Calon menyampaikan visi, misi, dan rencana 100 hari dalam forum terbuka.

c. Rekam jejak diverifikasi dengan data, bukan hanya klaim.

d. Pemilihan bebas dari politik uang, janji jabatan, dan tekanan primordial.

e. Seluruh proses diiringi doa dan dijalankan sesuai Statuta dan peraturan yang berlaku.

f. Setelah terpilih, seluruh pihak bersatu mendukung kapten, termasuk yang sebelumnya berbeda pilihan.

PENUTUP

UHKBPN sedang berlayar di tengah badai. Mahasiswa baru terus menurun, tekanan finansial meningkat, dan dunia berubah dengan cepat. Di saat seperti ini, kapal tidak dapat dikemudikan oleh siapa saja. Ia membutuhkan kapten timnas yakni pemimpin dengan rekam jejak yang teruji, yang menjadi generator dan mata air, penyambung lidah dan duta, simbol dan etalase, yang berani membersihkan yang kotor, menjadi jaminan kepercayaan, membawa harapan, memegang kompas, dan mengayomi seperti orangtua.

Penyegaran yang sejati bukan sekadar pergantian wajah, melainkan pembaruan cara, dari cara lama yang tidak lagi efektif menuju cara baru yang setia pada misi. Alkitab memberi kriteria yang jernih, filsafat memberi kedalaman, dan kearifan Batak Toba memberi akar budaya. Semuanya bermuara pada satu panggilan yakni memilih dengan hati nurani yang jernih, di hadapan Tuhan, demi masa depan UHKBPN dan generasi yang dipercayakan kepadanya.

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.”

Yosua 1:9

PRO DEO ET PATRIA


Penulis
: Redaksi
Editor
: Redaksi