Tokoh Masyarakat Sumut Dr RE Nainggolan, MM Tegaskan HKBP Distrik X Medan Aceh Role Model Gerakan Oikumene Inklusif

Redaksi - Sabtu, 23 Maret 2024 18:25 WIB
Tokoh Masyarakat Sumut Dr RE Nainggolan, MM Tegaskan HKBP Distrik X Medan Aceh Role Model Gerakan Oikumene Inklusif
Jonson Rgg
Tokoh masyarakat Sumut Dr. RE Nainggolan, MM, Preases Distrik X Pdt. Henri Napitupulu, STh, Ir. Ronald Nabaho, M.Si, Jadi Pane, SPd, MM, Pdt. Resna T Malau, dan yang lainnya diabadikan setelah selesai seminar

Ketika didaulat memberikan kata sambutan dalam Seminar Gerakan Oikumene Inklusif yang dihadiri Pendeta Resort dan Dewan Diakonia Huria yang ada di Distrik X Medan Aceh, juga beberapa pimpinan gereja dengan denominasi yang berbeda, serta tokoh gereja, tokoh masyarakat Sumut menegaskan bahwa HKBP Distrik X Medan Aceh harus jadi role model dalam menggemakan dan juga mempraktikkan Gerakan Oikumene Inklusif, tegas Dr. RE Nainggolan, MM lagi, Sabtu (23/03/2024)

Seminar ini dilaksanakan di Aula Kantor HKBP Distrik X Medan Aceh dengan HKBP Uskup Agung Sugiopranoto sebagai tuan rumah, Bahkan Dr. R.E. Nainggolan yang mengatakan bahwa jangan memperdulikan dari mana asal gereja, dari mana latar belakangnya, kita adalah anak Tuhan. Terbuka kepada semua orang, jangan menjadi ekslusif dengan memandang batas gereja, latar belakang dan agama. Amang R. E. Nainggolan ingat sewaktu Acara Jubileum 150 Tahun HKBP di Stadion Teladan, di mana Amang R. E. Nainggolan ingat bahwa HKBP menerima bantuan dari gereja-gereja lain. Hal ini merupakan bentuk dari oikumene yang saling membantu. Amang R. E. Nainggolan juga mengatakan bahwa ketika kita bersatu maka semua dapat kita hadapi, mudah maupun sulit dapat dilalui dengan mudah bila kita bersatu di dalam Tuhan. Dalam kata sambutannya juga, Amang R. E. Nainggolan mengajak semua yang hadir untuk menggemakan tema oikumene terlebih di Distrik X Medan Aceh.

HKBP Distrik X Medan Aceh (Pdt. Henri Napitulu, M.Th) melalui Panitia Oikumene Inklusif yang diketuai oleh Ir. Ronald Naibaho,MSi mengadakan Seminar Gerakan Oikumene Inklusif yang dihadiri Pendeta Resort dan Dewan Diakonia Huria yang ada di Distrik X Medan Aceh, juga beberapa pimpinan gereja dengan denominasi yang berbeda, serta tokoh gereja. Seminar ini dilaksanakan di Aula Kantor HKBP Distrik X Medan Aceh dengan HKBP Uskup Agung Sugiopranoto sebagai tuan rumah. Acara seminar ini diawali dengan ibadah dengan Inang Pdt. Resna Tiarasi Malau , S.Th (Pendeta Ressort HKBP Uskup Agung Sugiopranoto) sebagai pengkhotbah dan Amang St. Sakti Pakpahan (HKBP Uskup Agung Sugiopranoto) sebagai liturgis.

Teks yang menjadi khotbah dalam ibadah ini tertulis dari Matius 5:45. Dalam khotbahnya, Inang Pdt. Resna Manalu, S.Th menyampaikan bagaimana kita menghadirkan oikumene di dalam kehidupan. Sering kita lupa bahwa manusia berasal dari Allah, maka dari itu kita sulit untuk berbuat baik kepada sesama kita manusia. Sasaran dari acara Oikumene inklusif ini adalah membantu sesama manusia tanpa memandang gereja, asal, agama dan lain-lain. Dengan demikian, pembatas-pembatas pemikiran mengenai gereja mana, asal mana dan agama apa menjadi terbuka. Inang pendeta menekankan kepada semua yang hadir dalam acara ini yaitu bagaimana kita terbuka dalam berdiakonia, bukan untuk jemaat sendiri tetapi kepada sekitar.

Setelah ibadah dilaksanakan, dilanjutkan dengan kata sambutan dari Ketua Panitia Oikumene Inklusif (Ir. Ronald Naibaho) yang menyampaikan bahwa oikumene dapat dimulai dari hal-hal yang kecil misalnya memulai dari mentraktir teman. Hal ini termasuk membantu sesama dari hal-hal yang kecil. Sama seperti khotbah tadi, di mana memulai oikumene kepada sesama walaupun berbeda latar belakang. Panitia Oikumene Inklusif berharap diskusi atau seminar nantinya menjadi lebih baik serta poin-poin yang dipaparkan ileh oara nara sumber dapat sampai kepada kita semua dan dapat dilakukan ke dalam diakoni gereja masing-masing, bukan hanya dalam gereja tapi kepada sekitar gereja juga. Melalui ketua panitia, Panitia Oikumene Inklusif mempunyai sebuah komitmen yang baik di dalam menjalankan program-program oikumene.

Kata sambutan selanjutnya dari Amang Praeses Distrik X Medan Aceh yang menjelaskan tentang logo oikumene, logo bergambar perahu yang membawa salib didirikan dengan nama Dewan Gereja-gereja di Indonesia pada 21 Mei 1950. Amang praeses memahami bahwa gereja-gereja didunia ini merupakan anggota dari tubuh Kristus, sehingga setiap anggota (gereja) memiliki fungsinya masing-masing. Perbedaan dari berbagai gereja bukanlah menjadi suatu pertentangan, tetapi menjadi keberagaman yang mencerminkan kepenuhan karunia Tuhan. Tahun 2024 ini, HKBP melayankan pelayanan secara inklusif kepada semua orang dengan sebutan "Oikumene Inklusif" dengan tema "HKBP Proaktif Menghadirkan Kebaikan Allah bagi Semua" (Matius 5:45). HKBP menjadi saluran berkat Allah yang memberikan keadilan bagi semua makhluk. Oleh sebab itu, HKBP bertekad dan proaktif melayani semua orang dalam upaya perdamaian dunia, pembebas kaum marginal, dan nemelihara keutuhan ciptaan Tuhan.

Praeses menjelaskan juga bahwa acara seminar ini merupakan kegiatan ke-3 yang sudah dilakukan oleh panitia Oikumene Inklusif. Acara selanjutnya nanti akan dilakukan diskusi dan dialog antar umat beragama. Dengan demikian, HKBP juga mendorong percakapan dan kerjasama untuk dilaksanakan dengan saudara seiman denominasi gereja lain bahkan dengan umat beragama uang lain, sehingga misi gereja menjadu berkat bagi bangsa-bangsa akan semakin terimplementasi dan memberi kesadaean mengenai keutuhan ciptaan.

Seminar Gerakan Oikumene Inklusif yang di pimpin oleh Pdt. Swardi Aruan, S.Th. Pemaparan materi diawali oleh Pdt. Dr. Ramli Harahap yang berasal dari Gereja Kristen Protestan Angkola (Dosen Bidang Historika di STT Abdi Sabda Medan) yang menjelaskan keesaan dan kesatuan yang mempersekutukan antara gereja dan Allah sebagaimana tertulis di dalam Yohanes 17:21. Dilanjutkan oleh Pdt. Erwin Tambunan, M.Th (ketua PGI kota Medan) yang memaparkan materi tentang kegiatan oikumene PGI Kota Medan, seperti mengadakan kegiatan natal bersama, paskah bersama, pertukaran pelayan terkhususnya para pendeta di kota medan, membuat Majelis Pekerja Harian yang mengutamakan musyawarah untuk mufakat, festival koor, melaksanakan seminar bagi Anak Sekolah Minggu, Remaja dan Pemuda, Kaum Perempuan dan Bapak, Guru Sekolah Minggu, serta seminar kepada Istri-istri Pendeta dan memelihara lingkungan hidup, politik, dan membina wawasan kebangsaan.

Selanjutnya pemaparan materi oleh Pdt. Ridwan Lumbantobing, M.Th (ketua PGPI kita Medan) yang menjelaskan kasih sebagai dasar toleransi dengan dasar Matius 22:39 dan 1 Korintus 13:4-7, sehingga dasar dari gerakan oikumene adalah kasih Allah yang diwujudkan oleh sesama manusia dengan berharap kepada Tuhan. PGPI mempunyai prinsip persekutuan gerejawi yang rohani untuk membagun gereha yang esa dan dewasa di Indonesia sesuai dengan Iman Kristen dalam Firman Allah. Kemudian pemaparan materi terakhir oleh Pdt. Torang Pasaribu, M.Th (Ketua PGLII kota Medan) yang memaparkan gerakan oikumene adalah gerakan yang sangat penting untuk dilakukan dengan dasar kuat yang berlandaskan Firman Allah (Yoh. 17:21). Melalui gerakan oikumene, PGLII kota Medan hadir menjadi saluran berkat Allah dengan saling menerima, saling membangun dan hidup dalam kasih Allah.

Kiranya Seminar Gerakan Oikumene Inklusif ini, dapat menambah pengetahuan akan gerakan oikumene dan setiap kita dimampukan Roh Kudus untuk berdiakonia yang oikimenis di dalam kehidupan. Tuhan Memberkati. Hadir juga penasehat panitia Jadi Pane, SPd, MM, Dr. Janter Napitupulu, Dr. Osman Manalu, Dr. Mian Siahaan, dan yang lainnya

Penulis
: Redaksi
Editor
: Redaksi