Refleksi Kemanusiaan dalam Perspektif Agama untuk Meneguhkan Perdamaian Oleh Jaringan Cendekiawan Muda

Redaksi - Selasa, 02 Desember 2025 16:51 WIB
Refleksi Kemanusiaan dalam Perspektif Agama untuk Meneguhkan Perdamaian Oleh Jaringan Cendekiawan Muda

Jakarta - Jaringan Cendekiawan Muda Indonesia membuka ruang dialog kritis di tengah gejolak global, dengan mengusung tema “Refleksi Kemanusiaan dalam Perspektif Agama untuk Meneguhkan Perdamaian. Pada, 29 November 2025 di Gedung Joeang 45, Jakarta Pusat.

Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk menyediakan wadah pertemuan gagasan yang konstruktif di era penuh ketidakpastian.

Sebagai salah satu founder Artinus Hulu, menegaskan dalam pembukaan Bincang Cendekia bahwa generasi muda intelektual harus peduli terhadap sesama tanpa membeda-bedakan agama, ras, suku, atau batas geografis.

Menurutnya, sebagai makhluk rasional, manusia dituntut untuk menjunjung tinggi perdamaian, persatuan, kesetaraan, dan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Kisah Orang Samaria yang Baik Hati di Alkitab, disebutkan sebagai teladan tindakan nyata bagi sesama. Contohnya saja seperti menjelang perayaan hari Natal, semangat ini diwujudkan melalui kegiatan bakti sosial di berbagai daerah yang kena bencana alam. Menolong mereka yang terdampak seperti di Tapanuli Tengah, kawasan terdampak erupsi Semeru, Medan, Aceh, Padang, dan wilayah lainnya. Serta kegiatan-kegiatan kemanusiaan lainya yang dilakukan oleh elemen-elemen masyarakat dan komunikasi peduli kemanusiaan.

Kebaikan dalam lintas agama mengingatkan saya pada perkataan Bapak Presiden Prabowo Subianto yang menginspirasi kita semua untuk berbuat kebaikan dengan pesannya: “Kalau Anda tidak bisa membantu banyak orang, bantulah beberapa orang. Kalau beberapa orang pun tidak bisa dibantu, bantulah satu orang. Kalau satu orang pun tidak bisa dibantu, minimal jangan menyusahkan apalagi menyulitkan orang lain.”

Simposium ini menghadirkan sejumlah akademisi dari berbagai latar belakang agama, antara lain: Prof. Frans Magnis Suseno (Katolik), Prof. Angel Damayanti (Kristen), Teddy C. Putra (Hindu), Bung Putra (Islam), dan Dwi Poernomo (Buddha).

Mereka bersama-sama menekankan pentingnya menjaga perdamaian dunia melalui perspektif keagamaan yang inklusif dan egaliter.

Para narasumber menggambarkan karakter humanis bangsa Indonesia. Menurut Prof. Angel Damayanti, orang Indonesia memiliki sifat suka memberi dan suka menolong sesama dengan empati yang tinggi. Sementara itu, Bung Dwi Poernomo menambahkan bahwa tingkat toleransi di Indonesia sangat tinggi dan tidak perlu diragukan. Bung Putra mengingatkan pentingnya menyikapi era pascakebenaran secara kritis, dan Prof. Magnis menyoroti tantangan modernitas yang kerap mengaburkan nilai-nilai kenyataan hidup bermasyarakat.

Tanggapan dari perwakilan mahasiswa Magister UKSW, Yukenriusman Hulu, menguatkan semangat tersebut. Ia menyatakan bahwa menjaga perdamaian dunia merupakan tanggung jawab bersama, sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945 yang menolak segala bentuk penjajahan dan menegakkan peri kemanusiaan serta keadilan.

Program ini dirancang untuk menggerakkan cendekiawan muda dan pemangku kepentingan komunitas agar berani masuk dalam percakapan yang jernih dan mendalam.

Tujuannya adalah menempatkan agama sebagai sumber etika perdamaian yang mempersatukan, bukan memecah belah.

Dengan semangat persatuan dan komitmen pada kemanusiaan, kegiatan ini diharapkan dapat terus menjadi katalisator dialog yang membawa Indonesia dan dunia menuju perdamaian yang lebih kokoh. Merdeka!

Salam Cendekiawan Muda

Penulis
: Redaksi
Editor
: Redaksi