PERGELARAN MUSIKAL MEDAN GLORIUS SINGERS Oleh: Dr. Hendrik L. Simanjuntak, M.Sn

Dosen Tetap FBS UHN Medan dan Saat Ini Ketua LPM
Redaksi

Sabtu, 15 April 2023 menjadi hari yang istimewa bagi para penikmat seni di Kota Medan untuk mendengarkan lantunan melodi indah dan harmoni yang disusun untuk menguatkan karakter lirik lagu yang membawa kita ‘terbang’ dalam dimensi waktu dan ruang yang berbeda. Penonton yang hadir dari berbagai segmentasi masyarakat begitu antusias menyaksikan pergelaran ini dan mereka hampir memenuhi seluruh ruangan pergelaran di Gereja HKBP Sudirman. Ini adalah fakta yang tidak terbantahkan, bahwa melalui seni kita dapat ‘berdamai’ meskipun memiliki latar belakang sosial dan budaya yang berbeda.

Medan Glorious Singers adalah kelompok paduan suara yang anggotanya berasal dari berbagai gereja di Kota Medan dan sekitarnya. Mereka memiliki hubungan yang erat dengan pelaksanaan PESPARAWI Nasional 2022 di Yogyakarta. Selepas pelaksanaan PESPARAWI, anggota Paduan Suara Dewasa Campuran (PSDC) dan Paduan Suara Pria (PSP) bersepakat untuk membentuk paduan suara baru yang bertujuan untuk terus menerus memupuk kecintaan dalam bernyanyi serta terus aktif dalam pelayanan dan memuji Tuhan. Pada tahun 2023, Medan Glorious Singers berdiri dengan misi membawakan puji-pujian kepada Tuhan.

Satu hal yang menjadi fokus utama dari pergelaran ini adalah terkait pemilihan karya yang dipresentasikan oleh Medan Glorious Singers. The Seven Last Words of Christ adalah maha karya Théodore Dubois yang secara khusus mencoba untuk ‘menangkap’ atau ‘merekonstruksi’ perjalanan Yesus saat penyaliban dan kematianNya sebagaimana tertulis dalam Injil.

Tujuh Kata Terakhir Kristus semuanya dikutip dari Alkitab dan secara khusus ditemukan dalam empat kitab pertama Perjanjian Baru yang dikenal sebagai kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes). Keempat Injil ini masing-masing menceritakan kehidupan dan kematian Kristus dari perspektif yang berbeda. Akan tetapi, Tujuh Kata Terakhir Yesus tidak ditemukan dalam satu kitab Injil pun, tetapi lebih merupakan kombinasi dari semua yang diucapkan Kristus dari kayu salib yang terkait dalam keempat Injil. Tidak ada satu Injil pun yang menuliskan lebih dari tiga perkataan dari Kristus di kayu salib dan tidak ada tumpang tindih antara keempat Injil tentang apa yang Yesus ucapkan dari kayu salib. Oleh karena itu, konstruksi satu narasi “Tujuh Kata Terakhir” merupakan upaya untuk menyelaraskan Injil.

Dalam konteks komponis, The Seven Last Words of Christ menjadi bagian menarik karena teks-teks ini memberikan inspirasi yang luar biasa bagi komponis untuk berkarya. Sejauh mana mereka mencoba ‘menangkap’ atau ‘merekonstruksi’nya dalam komposisi musik menjadi suatu kebaruan yang dapat klaim sebagai ‘ciri khas’ mereka. Komponis awal yang menjadikan Tujuh Kata Terakhir Yesus sebagai inspirasi adalah Joseph Haydn yang menyusun “The Seven Last Words from the Cross” untuk kebaktian Jumat Agung pada tahun 1787.

Jika kita merujuk komponis di Perancis, setidaknya ada tiga komponis yang terinspirasi dari teks-teks ini, seperti; Charles Gounod, César Franck, dan Théodore Dubois. Ketiga komponis ini mengatur teks dalam bahasa Latin dalam periode era Romantik. Bahkan, karya-karya ini tidak hanya disusun di wilayah yang sama, namun disusun dalam rentang waktu dua belas tahun, dan dalam wilayah geografis yang sama. The Seven Last Words of Christ karya Théodore Dubois pertama kali dipergelarkan pada tahun 1867, tepat pada hari Jumat Agung di Gereja Sainte-Clotilde.

Dalam konteks pergelaran musikal Medan Glorious Singers, presentasi yang dihadirkan adalah tiga solois (STB), paduan suara, dan keyboard (suara organ dan piano). Secara keseluruhan, pergelaran ini sukses dalam mempergelarkan komposisi The Seven Last Words of Christ karya Théodore Dubois. Kontinuitas latihan yang disiplin, pemilihan solois, dan pengiring menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan untuk meraih hasil yang maksimal.

Ansgar Manurung sebagai pelatih memegang peran sentral untuk pengaturan pergelaran. Beliau adalah sosok yang tidak diragukan lagi dalam bidang paduan suara, hal ini bisa dilihat dari deretan aktivitas musikal yang dilakukan. Misalnya; (1) Bergabung dengan Studio Cantorum dan Batavia Madrigal Singers; (2) mengikuti master class vocal dari Marijke ten Kate dari Belanda; (3) mengikuti konser “The Seven Last Words of Christ – Theodore Dubois dan Requiem – Gabriel Faure; (4) solois di Cantata – John W. Peterson dan ikut dalam produksi The Messiah Handel dengan pimpinan Prof. Andre de Quadros; dan (5) mengikuti kompetisi internasional dan nasional, di antaranya: Polifonia de Habaneras Choir Competition di Spanyol, Prof. Georgi Dimitri Choir Competition di Bulgaria, dan Lembaga Pengembangan PESPARAWI Daerah (LPPD) Sumatera Utara dalam PESPARAWI Nasional 2022 di Yogyakarta.

Solois memiliki peran penting dalam menyajikan The Seven Last Words of Christ. Théodore Dubois memberikan porsi yang besar untuk solois, yaitu; mulai dari awal karya hingga selesai. Pada pergelaran ini, tiga solois memiliki hubungan ‘klan’ dengan Simanjuntak. Ini adalah suatu kebetulan dan tidak disetting dari awal. Solois Sopran adalah Dr. Kartini R. M. Manalu, M.Sn, seorang penyanyi dan akademisi di bidang musikologi. Saat ini, beliau adalah dosen tetap di Program Studi Seni Musik Universitas HKBP Nommensen.

Solois Tenor adalah Togi Nixon Simanjuntak yang sudah lama berkecimpung dalam dunia paduan suara. Beberapa pengalaman dan prestasi di bidang paduan suara adalah; (1) bergabung bersama Paduan Suara Consolatio; (2) mengikuti berbagai kompetisi paduan suara, baik di dalam maupun luar negri; (3) mengikuti PESPARAWI tingkat Propinsi dan dipercaya sebagai solois tenor pada PESPARAWI NASIONAL kategori Paduan Suara Dewasa Campuran di Yogyakarta; dan (4) mengembangkan kemampuan vokal dari Christine Lubis, Joseph Kristanto Pantioso, Yasashi E. P., dan, Heny Janawati.

Solois Bariton adalah Ferry Simanjuntak sudah lama terjun dalam dunia paduan suara. Beberapa aktivitas musikal yang telah dijalani; (1) penyanyi Bass bersama Paduan Suara Consolatio di 51st Tolosa Choral Contest di Basque Country, Spanyol; (2) penyanyi Bass bersama Paduan Suara Consolatio di 15th International Chamber Choir Competition di Marktoberdorf, Jerman, 2014; (3) sebagai Solois Bass dalam konser ke-5 Hallelujah Choir SMAN 7 Medan, menyanyikan Missa no. 3 dari D 324. 2013; (4) sebagai Solois Bass dalam konser ke-4 Hallelujah Choir SMAN 7 Medan 2009 – 2010; (5) sebagai anggota Asian Youth Choir Angkatan 2009 dan Angkatan 2010, dalam konser di Manila, Bohol dan Tagbilaran, Filipina, 2009 – sekarang; dan (5) anggota Anima Voce Vocal Ensemble sebagai penyanyi Bass 2000 – 2019.

Pengiring juga merupakan bagian yang sangat penting, sebab musik dan vokal harus dapat saling mendukung untuk mencapai interpretasi yang diinginkan. Pada kesempatan tersebut, pengiring (musik organ dan piano) dipercayakan kepada Yovita Febriana, S.Sn. Beliau adalah alumni dari Program Studi Seni Universitas HKBP Nommensen dan lulusan ABRSM dengan kualifikasi Grade 8. Yovita adalah pengajar piano di beberapa lembaga musik selama tahun 2005-2019 dan menjadi penguji piano di beberapa lembaga musik Medan. Beberapa aktivitas musikal yang dilalui adalah; (1) menjadi juri piano pada kompetisi piano Medan tahun 2020; (2) menjadi pengiring pada Bali International Choir Festival bersama Paduan Suara Beata Voce; (3) menjadi pengiring pada acara Penabur International Choir Festival bersama Paduan Suara Angelus Paulo: (4) menjadi pengiring pada Festival Paduan Suara Institut Teknologi Bandung dan menjadi Pianis panitia Pesparawi Nasional di Medan pada tahun 2005; (5) menjadi pengiring untuk kategori vokal solo anak dan remaja di PESPARAWI Propinsi Sumatera Utara di kota Pematangsiantar; dan (6) menjadi pengiring untuk kategori Paduan Suara di PESPARAWI Nasional yang diadakan di Daerah Istimewa Yogyakarta, tahun 2022.

Untuk anggota paduan suara, sedikit banyak masih berafiliasi dengan Universitas HKBP Nommensen (sebagai mantan anggota Paduan Suara Concordia dan alumni Program Studi Seni Musik Universitas HKBP Nommensen) dan gereja-gereja di Kota Medan dan sekitarnya. Personil Sopran terdiri dari; Bella Astria, Betty Junita Mayasari Lumban Gaol, Eva Varida Lumban Tobing; Juanita R Sidabutar, Lisken Juliati Marpaung, Princess Loving Valentine Sinaga, Sriwinta Sihotang, dan Synoria Karolina Lubis. Personil Alto terdiri dari; Bella Tania Vita Loka Panjaitan, Bestari Purba, Devi Setiawati Gulo, Junita Parhusip, Nessya Ruthsyana Hutabarat, Pitta Dongan Silaen, dan Rismawaty Sinaga. Personil Tenor terdiri dari; Alfredo Jack Franklin Sitompul, Darwin Holden Butar-Butar, Ernest Erwin, Muhammad Riandy Siahaan, Mangatas Urbanus Sitorus, Sandro Siahaan, dan Togi Nixon Simanjuntak. Personil Bass terdiri dari; Irvan Panusunan Lumban Tobing, Ingan M. K. Ginting. Joshua Tobing, Kesatria Sipayung, Liberti Marbun, Pangeran Yosua Panjaitan, Rael Antonio Sinurat, dan Victor Thomson Pakpahan.

Penulis
: Redaksi
Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Opini

Prof. Dr. Junita Batubara, M.Sn PhD Diangkat Jadi Tim Ahli Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di Lingkungan LLDIKTI Wilayah I

Opini

Digital Safety: Mengapa (selalu) Penghuni Terbawah? Oleh: Jubilezer Sihite

Opini

Dr. Arsen N Pasaribu, M.Hum Dilantik Menjadi Dekan FBS UHN Medan 2023-2027

Opini

FBS UHN Medan Terus Berpacu Untuk Kerjasama Internasional

Opini

Dekan FBS UHN Medan Prof. Junita Batubara, MSn, PhD Berkontribusi Sebagai Penulis Ke-2 Di Jurnal Scopus Q2

Opini

Karya Mahasiswa Prodi Musik FBS Di HAKI-kan, Prof. Junita Batubara, MSn, PhD Tegaskan Ini Jadi Jingle FBS