Perjalanan bangsa kita yang sarat dengan berbagai problematika yang sangat akut pantas membutuhkan solusi agar bisa dislesaikan dengan cara-cara yang etis, beradab, dan penuh kasih. Saat ini masalah kebangsaan mulai dari korupsi, transaksi menucrigakan, kriminal, ketimpangan ekonomi dan yang lainnya butuh untuk sesegea diselesaikan.
Saat ini masalah –maslah kemaslahatan umat (jemaat)) seperti Krisisi ekonomi, krisis pangan, krisis lingkungan hidup, krisis penegakan hukum merupakan bagian dari persoalan kebangsaan, sebenarnya kalau kita analisa lagi, akar dari segala krisis ini adalah perilaku kita sendiri. Perilaku serakah dalam bidang ekonomi, perilaku mengutanmakan sendiri dengan segala cara, perilaku egoisme, perilaku fanatisme telah ikut mendorong bangsa jatuh dalam “kubangan” kebangsaan yang sangat parah. Konsekuensinya korupsi merjalalela, KKN merajalela, kriminal merajalele. Semua ini butuh solusi yang sangat cepat dengan memperkuat basis perilaku dan karakter.
Tentu memperkuat karakter butuh nilai, norma, hukum, dan secara khusus panutan. Yesus Kristus adalah figur panutan, figur teladan, figur yang menampilkan diri dengan pola hidup sederhana, jujur, berintegritas, peduli, mengutamakan kasih, sampai menyerahkan nyawanya untuk penebusan umat manusia. Hampir semua perilaku Yesus patut kita tiru dan lakonkan dalam hidup kita. Sikap peduli, sikap menolong sesama, sikap menghormati, sikap jujur, sikap hemat, dan berkorban adalah sikap yang dimiliki Yesus dalam pribadinya yang utuh.
Apa upaya mewariskan sikap dan perilaku Yesus ini dalam diri manusia sehingga persoalan kebangsaan kita ini bisa teratasi dengan baik? Terlebih lagi dalam kajian psikologi (ilmu perilaku) persoalan kebangsaan pada umumnya lahir dari ketidaktegasan elite penyelenggara negara. Ketidakbecusan dalam pengelolaan negara berakumulasi pada munculnya persoalan kebangsaan yang begitu compleks. Padahal kalau negara dikelola dengan bagus, menurut hukum yang berlaku, berorientasi pada kemakmuran rakyat maka masyarakat akan mendapat apa yang menajdi haknya. Ini tidak, praktik pengelolaan negara sarat dengan korupsi, manipulasi, penguasan dan dominasi mafia terhadap hukum, sehingga membuat negara lemah dan masyarakat juga lemah.
Kita akan merayakan paskah ditengah berbagai problematika kebangsaa kita. Paskah adalah momentum moral dan sarat dengan visi kemanusiaan karena penebusan Yesus dengan darahnya kepada kita semua. Problematika bangsa kita sekarang ini adalah ada kecenderungan bangsa kita mengalami negara gagal. Para tokoh agama pernah melakukan seruan moral agar ada pembenahan bangsa ditengah –tengah berbagai kebohongan yang dilakukan oleh pemerintah. Benarkah pemerintah melakukan kebohongan seperti yang diungkapkan oleh para tokoh agama tersebut?
Kita bukan mau membahas benar tidaknya pernyataan tokoh agama tersebut. Yang menjadi masalah adalah mengapa pemerintah mengalami ketidakmampuan menyelesaikan persoalan kebangsaan dalam konteks ekonomi, politik, hukum, dan pendidikan. Kita mengalami krisis dalam bidang ekonomi. Sampai sekarang banyak terjadi kriminal hanya karena persoalan kemiskinan yang mendera bangsa. Kita menyaksikan betapa hidup masyarakat kita mengalami kesusahan. Sementara kesenjangan ekonomi sangat terasa.
Masyarakat kita sangat sulit mendapatkan akses ekonomi karena kebijakan ekonomi yang sangat timpang. Para pemilik modal terus memperbanyak jaringan bisnis mereka dan mendaptkan fasilitas yang gampang dari pemangku kebijakan. Kondisi ini membuat masyarakat tertekan dan mengalami frustrasi yang sangat besar. Mengapa kebijakan ekonomi kita tidak pernag pro pada masyarakat miskin? Inilah yang menjadi permenungan paskah pada tahun ini.
Dalam bidang hukum pun kita mengalami setback yang luar biasa. Hukum hanya mampu menindak masyarakat kecil yang tidak berdaya. Para pejabat negara dan yang punya uang bisa membeli keadilan. Kondisi ini masih menyandera bangsa kita untuk menjadi bangsa yang sangat besar. Padahal hanya dengan penegakan hukumlah sebuah bangsa bisa maju. Dapat kita lihat bangsa yang tidak berjalan pada aturan yang sebenarnya tidak bisa maju dan bangkit dari keterpurukan.
Terlepas daripada itu, sekarang ini hidup manusia lekat dengan kekerasan. Hal ini ditandai dengan makin maraknya bentuk kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Tema konflik yang muncul kepermukaan ditandai dengan tindak kekerasan. Bumi penuh dengan aroma kekerasan. Benar ungkapan Jacques Ellul: kekerasan yang satu akan melahirkan bentuk kekerasan yang lain.
Mungkin kita bertanya, siapakah yang memulai tindak kekerasan di bumi? Sebetulnya ini adalah pertanyaan yang kurang tepat porsinya. Sejak zaman Alkitab, yang dimulai dari kehidupan Kain- anak Adam, tidak ada asal muasal kekerasan di bumi. Tapi awal sebuah dendam yang tidak terselesaikan pada diri manusia, dan berujung dengan kekerasan. Yang ada adalah rangkaian proses pembalasan yang berkesinambungan. Semangat membalas dendam adalah tindakan yang tidak pernah berakhir, tanpa batas yang jelas, dan selalu terulang dalam siklus sejarah hidup manusi
Hidup Yesus juga lekat dengan kekerasan, meskipun Yesus tidak pernah melakukan tindak kekerasan. Tangan Yesus selalu penuh dengan cinta kasih, menolong orang yang membutuhkan, dan melakukan kebaikan. Tetapi dunia riil, di sekitar Yesus bukanlah dunia yang steril tanpa noda. Di akhir periode hidup Yesus pun, akhirnya Ia menjadi korban tindak kekerasan dari orang- orang yang amat dikasihiNya. Tindakan yang sangat biadab untuk zaman itu, dan mengkambing-hitamkan orang yang tidak bersalah dengan disalibkan.
Tetapi Yesus sebagai manusia yang datang ke dunia ini telah menyerahkan nyawaNya untuk orang berdosa agar kelak manusia itu selamat. Karya penyelamatan dengan kematian merupakan anugerah yang luar biasa bagi manusia. Dalam konteks bernegara, apa yang dilakukan Yesus patut kita warisi agar bangsa ini bisa selamat dan perjalanannya kedepan. Terlebih lagi di tahun politik ini dan menkelang pemilu 2024 yang banyak melahirkan politik identitas dan akan saling sikut satu sama lain.
Semoga probleamtika dasar bangsa ini ini dalam bentuk krisis ekonomi, hukum, politik, dan pendidikan bisa teratasi dengan baik. Belajarlah kepada kematian Yesus yang memberikan penyelamatan terbesar kepada manusia. Saatnya negara juga hadir memberikan penyelamatan kepada rakyatnya melalui perbaikan kehidupan ekonomi, hukum, sosial budaya, dan juga pendidikan. Selamat berpaskah.
Penulis adalah:Mantan Sekretaris Umum DPD GAMKI Sumut/ Saat Ini Anggota Yayasan UHN Divisi Asset / Pengurus DPD Partai Golkar Sumut