Bagaimana memaknai kebangkitan nasional dalam kontkes kekinian dengan perilaku mmebangun yang kreatif dan inovatif adalah hal yang harus dilakukan. Untuk itu, substansi merayakan kebangkitan nasional adalah sebuah pesan yang harus kita lakukan di era digital yang menuntut inovasi dan kreasi komunitas, individu, dan juga negara secara kelembagaan. Sejarah kebangkitan nasional adalah sebuah upaya yang disertai daya juang para pendiri bangsa untuk bisa lepas dari penjajahan Belanda yang sangat menyakitkan. Maka, bangkit secara nasional adalah seruan yang sangat mulia untuk membangun bangsa ini.
Saat bangsa dan dunia ini sedang dilanda pandemi Covid-19 secara bersamaan telah memukul dan membuat semua bangsa mengalami dampak negatif dan menguras energi yang sangat besar. Berbagai kebijakan, upaya telah dilakukan agar bangsa kita bisa keluar dari situasi saat ini, tetapi masih belum memberikan hasil yang signifikan. Lantas, apa yang harus dilakukan agar bangsa kita bisa keluar dari situasi yang sangat menyakitkan ini? Kebijakan dengan menetapkan protokoler kesehatan tentu jadi senjata dan andalan utama. Himbauan pemerintah, ahli medis dengan protokoler kesehatan yang sangat ketat tentu dengan satu harapan, mata rantai bisa terputus.
Covid-19 memang tidak hanya dialami oleh bangsa Indonesia, semua bangsa merasakan hal yang sama. Dampaknya sangat besar, produktivitas kurang, inovasi tidak berkembang, perlamabatan ekonomi terjadi dimana-mana, krisis lapangan kerja melanda dunia, siswa terpaksa melakukan alternatif pembelajaran yang tidak efektif. Belum lagi tingkat stress masyarakat semakin naik grafiknya yang pada akhirnya membuat sebuah bangsa mengalami kerugian yang sangat besar.
Saat ini bangsa kita memperingati sebuah moment yang sangat besar dimana bangsa kita memperingati 115 kebangkitan nasional sebagai sebuah momentum sebuah bangsa berpikir tentang arti kebebasan dan kemerdekaan bagi bangsa ini. Dalam konteks negara modern dan ditengah arus kemajuan yang sudah kita raih saat ini hari kebangkita nasional tentu menjadi sebuah penyemangat jiwa, vitamin jiwa, dan membangun spirit tentang Indopnesia yang lebih baik. Tata kelola bernegara yang baik dengan fokus pada pelayanan publik yang prima, fokus pada pemberdayaan warga sebagai komunitas yang harus dibangun adalah sebuah harapan dan juga sekaligus “out put” dari cita-cita kebangkitan nasional.
Ini tidak, perilaku elit politik yang kita lihat masih jauh dari semangat Dr. Sutomo dan kawan-kawan yang mengabdikan dirinya untuk bangsa ini tanpa pamrih. Cita-cita Budi Utomo yang berdiri pada tahun 1908 oleh pendirinya Dr. Sutomo dan kawan-kawan tentang masa depan Indonesia yang lebih baik sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan bebas dari penjajahan seharusnya kita warisi sebagai warisan emas dari para pendahulu. Budi Utomo lahir sebagai sebuah gerakan yang penuh dengan ideologi, cita-cita, visi kenegaraan, dan proyek bangsa Indonesia kedepan yang penuh dengan pengharapan dan bangsa yang merdeka, berdaulat, serta punya pemerintahan sendiri. Gerakan Dr. Sutomo dan kawan-kawan ini adalah cikal bakal kebangkitan nasional pertama dengan semangat nasionalisme Indonesia.
Pergerakan mereka bukan atas dasar materialisme dan balas jasa atau ada motif berkuasa menggantikan Belanda. Mereka menginginkan bangsa ini merdeka dan bebas dari penjajahan bangsa asing. Melihat nasib saudara mereka di seantero nusantara yang terjajah, keinginan mengusir penjajah melalui jalur pendidikan dan diplomasi saat itu patut kita acungkan jempol. Target utama perjuangan adalah demi kedaulatan bangsa yang besar. Bukan karena faktor-faktor yang lain. Maka semuanya dikorbankan untuk kebangsaan Indonesia yang besar yang puncaknya adalah 17 Agustus 1945.
Seiring dengan waktu dan perjalan bangsa kedepan, sampai sekarang ini para the founding father bangsa ini mungkin akan menangis melihat kondisi terkini bangsa kita yang sangat jauh dari harapan mereka. Kalau pahlawan dulu berjuang dengan semangat kerakyatan yang membara, dan melihat bangsa menjadi besar dengan konstitusi yang ada yakni UUD 1945, kini pemimpin kita sangat jauh dari karakter semangat kepahlawanan dulu dulu seperti yang ditunjukkan oleh para pendiri Budi Utomo yang merupakan pejuang orisinal bagi bangsa ini.
Realitas negara kita saat ini memang sangat memprihatinkan. Pemberitaan dimana-mana terkait masalah korupsi, mulai dari korupsi kecil sampai masalah korupsi besar selalu menghiasai media cetak dan elektronik. Kemudian kenakalan remaja, prostitusi online, dan juga angka kriminalitas lainnya tentu jadi berita buruk dan ini adalah sebuah kondisi yang sangat tidak diharapkan oleh para pendiri Budi Utomo. Tetapi kalau kita telusuri kasus korupsi misalnya, sangat sedikit yang diproses secara hukum dengan aspek keadilan masyarakat. Banyak vonis pengadilan tentang korupsi sangat melukai masyarakat. Rupanya hukum hanya berlaku pada masyarakat kecil saja. Supremasi hukum yang seharusnya pilar berbangsa dan bernegara tidak terlaksana dengan baik.
Sampai kapan bangsa kita mampu melakukan perubahan radikal dengan baik dengan orientasi perbaikan kehidupan masyarakat? Bukankah sangat menyakitkan jika progres bangsa ini tidak signifikan dengan apa yang diperjuangkan oleh pergerakan Budi Utomo dengan misi agung kenegaraan yang bermanfaat untuk semua anak bangsa? Kita sudah sering mendengar istilah negara gagal, negara bubar dan lain sebagainya. Tentu kita harus menghindari ini dengan cara membangun karakter warga negara yang baik, karakter elit politik yang baik, dan karakter warga negara lainnya pada segmen yang berbeda di bidang apa saja. Penguatan karakter dan menumbuhkan sifat kenegarawanan adalah solusi tunggal untuk Indonesia yang lebih baik dan lebih bagus kedepan.
Bangsa ini harus belajar dari negara asing mislanya seperti negara Yugolsavia misalnya. Kita bisa melihat Yugoslavia yang tercabik –cabik menjadi beberapa negara kecil hanya karena perang saudara untuk berebut kekuasaan. Mereka pecah menjadi beberapa negara dan gagal menjaga negara kabngsaan mereka. Kehidupan seperti negara Yugoslavia misalnya bisa menjadi contoh bagi semua anak negeri ini bahwa bangsa yang besar jika tidak punya ideologi, gagasan, cita-cita dan visi kenegaraan maka akan hancur dengan sendirinya.
Ditengah dampak pandemi Covid-19 ini bangsa ini harus menyatukan visi dan misi yang sama, yaitu bangsa Indonesia bisa keluar dari hantaman krisis Covid-19 dan juga tantangan globalisasi lainnya. Saatnya kita punya pandangan yang sama, penguatan karakter, penguatan daya tahan berbangsa dan bernegara, penyeragaman pandangan bahwa Pancasila dan UUD 1945 adalah ruh kebangsaan, serta kesepahaman akan pemberantasan korupsi adalah jalan keluar untuk bangsa Indonesia yang lebih baik.
Mari menjadi sebuah warga negara yang punya daya juang dan punya inovasi agar kita bisa memaknai kebangkita nasional dengan baik dan benar dan mengarah pada substansi sebagai sebuah bangsa. Disisi lain produktivitas sebagai warga negara, inovasi oleh pemerintah ditengah arus kemajuan, kreativitas oleh akademisi, pendidikan yang berorientasi kemajuan adalah hal yang harus kita lakukan untuk mengisi kebangkitan nasional yang sedang kita rayakan saat ini. Ingat, kebangkitan nasional adalah tanggung jawab kita bersama sebagai sebuah bangsa yang besar. Indonesia yang lebih baik harus kita isi mulai dari diri masing –masing dengan melakukan hal-jal yang baik dan membangun untuk bangsa ini. Selamat merayakan hari Kebangkitan nasional.
Penulis adalah: Anggota Yayasan UHN Medan Divisi Aset/ Dosen di Berbagai PTS dan Juga Mantan Korwil GMKI Sumut Aceh