SEJATINYA publik pemilih yang sebentar lagi menghadapi kontestasi Pilpres 2024 diharapkan lebih logis dalam memilih pemimpin lanjutan dari era Jokowi. Karena Indonesia harus beradaptasi pada perkembangan ekonomi dunia yang sedang mengalami fase krisis sesuai diprediksi ekonom dan pemimpin dunia, pasca perang Ukraina dan Rusia yang masih belum berakhir.
Selain pemimpin yang memiliki spirit nasionalisme, pemimpin kita juga harus mampu membangun ekonomi untuk menggapai Agenda Indonesia 2040 yang maju dan yang berada di 5 besar negara dengan pendapatan per kapita tertinggi.
Untuk calon Presiden, hasil survei mengunggulkan 3 tokoh dengan elektabilitas teratas yaitu Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. Sedangkan Calon Wakil Presiden belum tergambar kandidat unggulan.
Sesuai dengan permasalahan ekonomi dunia dan pembangunan nasional Indonesia 5 tahun kedepan, maka figur pemimpin berkapasitas sinergik mendampingi Presiden haruslah berpengalaman dalam ekonomi dan bisnis.
Setelah ditelusuri, maka Erick Tohir merupakan salah satu figur mumpuni yang berlatar Pengusaha (kini Menteri BUMN) masuk dalam bursa Cawapres untuk Pilpres 2024.
Kita mahfum manakala berbagai media mengulas figur Erick Thohir (mantan ketua Tim Sukses Jokowi di Tahun 2019) sebagai cawapres yang dianggap mampu melanjutkan program Jokowi setelah memerintah 10 tahun terakhir.
Erick Thohir sendiri sering diunggulkan sebagai Cawapres berdasar hasil berbagai Lembaga Survei agar berpasangan dengan beberapa nama capres. Sebut saja Ganjar Pranowo atau Airlangga Hartarto.
Sesungguhnya Erick dapat pas sebagai Wakil Presiden di zaman era digital kekinian. Buktinya di akun Instagram nya sendiri Erick Thohir dengan pengikut 2,3 juta ternyata cukup interaktif dengan netizen melalui akun sosial medianya.
Hal ini menjadi salah satu variabel penting lainnya untuk memenangkan perebutan suara rakyat di era digital, dimana Erick Tohir mampu menjadi salah satu node/aktor yang jejaring sosialnya fungsional dalam sosialisasi atau komunikasi politik bagi para calon presiden maupun wakil presiden yang akan dipilih dalam Pemilu 2024.
Pun kalau mau jujur, hingga saat ini jejak rekam cawapres yang sekaliber Erick Thohir belum ditemukan.
Erick Thohir atau lebih keren jika kita akronimkan "ET" adalah figur yang sangat kapabel untuk menjadi pendamping Presiden dengan latar belakang birokrasi yang kuat. ET adalah teknokrat sejati sebelum memutuskan masuk dunia politik dan dipercaya Presiden Jokowi sebagai Menteri BUMN.
Agaknya tidak ada seorang cawapres pun yang mampu mengimbangi pengalaman, jejaring, dan portofolionya dalam dunia bisnis. ET berbisnis media dan sukses dengan Mahaka grup, konglomerasi media cetak dan media elektronik.
ET juga penggagas Harian Republika yang menjadi bacaan alternatif para intelektualis dan pelopor media online di Indonesia bersama Detik dan Tempo. ET pun identik dengan sepakbola. Dia memadukan bisnis dan idealisme.
Kiprahnya menjadi pemilik 70 persen saham Inter Milan, klub sepakbola raksasa di Liga Seri A tentulah membanggakan anak bangsa. ET dipercaya sebagai presidenklubke-21 dalam 106 tahun sejarahklubtersebut. Bersamaan dengan itu, ia juga memilikiklub sepak bolaAmerika, D.C. United dan juga pernah sebagai pemilikklub bolabasket NBA Philadelphia 76ers.
Di bawah kepemimpinannya, Inter Milan berhasil finis di urutan ke-4 Serie A musim 2016. ET kemudian membeli Oxford United, klub sepakbola Liga III Inggris demi salah satu tujuan mulianya: agar anak-anak terbaik dari Indonesia bisa mendapatkan pendidikan sepakbola profesional di Eropa. ET juga mengembangkan sepakbola lokal dengan menjadi pesaham terbesar di Persib Bandung dan punya klub Basket Satria Muda yang berlaga di Indoensia Basket League (IBL). Adakah ini wujud nasionalisme yang terbantahkan?
Baru-baru ini dengan jejaringnya yang begitu luas di bisnis sepakbola, ET berhasil mempertemukan Presiden Jokowi dan Presiden FIFA selepas tragedi Kanjuruhan. PSSI pun terhindar dari "marabahaya" sanksi FIFA yang sudah mengancam akan membekukan kompetisi sepakbola Indonesia. Jokowi malah dianugerahkan anggota kehormatan FIFA lengkap dengan jersey bertuliskan "Jokowi" di punggung.
Sekali lagi, apresiasi ini mungkin sulit didapatkan jika tidak ada ET yang menjadi insiator di balik ini semua. Kepiawaian ET di bidang ekonomi mikro menjadi modal utamanya sebagai wapres.
ET sudah mengefisiensi BUMN dari 142 perusahaan menjadi 107 perusahaan dengan membentuk sejumlah holding. Ini bukan pekerjaan sederhana mengingat kompleksitas dan resistensi yang cukup keras dan tajam di lingkungan kerja BUMN.
Prestasi membenahi BUMN adalah bukti ET punya kemampuan manajerial yang juga tidak akan dimiliki cawapres lain, setidaknya nama-nama cawapres yang muncul di lembaga survei. Tapi jika pun ada rasanya suilt menandingi sepak terjang ET. Kalau bertarung ekonomi, apa itu kreatif, praksis, apalagi yang liquid, pastilah bak bumi dan langit.
Satu lagi, ET adalah putera Sumatera. Dulu ada Adam Malik. Inilah saatnya orang Sumatera duduk (lagi) jadi wapres!