jurnalpemerintahan.com -Kita hidup di zaman yang barangkali tak pernah sempat dibayangkan oleh Raden Ajeng Kartini. Sebuah zaman di mana pengetahuan tidak lagi dikurung dalam rak-rak perpustakaan atau ruang-ruang kelas, melainkan mengalir deras melalui layar kecil di genggaman tangan. Tidak ada lagi pintu yang harus didobrak untuk belajar. Tidak ada lagi jarak yang benar-benar jauh untuk dijangkau oleh rasa ingin tahu.
Namun justru di tengah kelimpahan itu, sebuah pertanyaan sederhana terasa semakin relevan: apakah kita benar-benar sedang belajar, atau sekadar merasa sudah tahu?
Setiap peringatan 21 April, kita cenderung menempatkan Kartini sebagai simbol, figur yang dipuji, dikenang, lalu perlahan dijauhkan dari kegelisahan hari ini. Padahal, yang diperjuangkannya bukan sekadar hak perempuan untuk keluar dari ruang domestik. Kartini memperjuangkan sesuatu yang lebih sunyi sekaligus lebih mendasar: kebebasan berpikir.
Ia melawan bukan hanya adat, tetapi juga kebodohan.
Dan hari ini, tantangan itu hadir dalam bentuk yang berbeda.
Antara Penampilan dan Pemahaman
Di era media sosial, istilah glow up menjelma menjadi semacam mantra. Ia hadir dalam ribuan video singkat, dalam potret-potret yang dikurasi rapi, dalam narasi tentang perubahan diri yang nyaris selalu dimulai dari apa yang tampak di luar.
Wajah yang lebih cerah. Gaya berpakaian yang lebih rapi. Tubuh yang lebih proporsional. Semua itu sah, bahkan penting dalam batas tertentu. Tidak ada yang keliru dari keinginan untuk merawat diri.
Yang patut dipertanyakan adalah ketika perubahan itu berhenti di sana.
Kita sedang hidup di tengah budaya yang begitu menghargai tampilan, tetapi sering kali abai pada kedalaman. Percakapan tentang apa yang kita pikirkan, apa yang kita pahami, dan bagaimana kita memaknai dunia, kalah cepat oleh konten yang lebih mudah dicerna.
Di ruang-ruang digital, tidak sulit menemukan orang yang sangat terampil merawat citra diri, tetapi gagap ketika diminta membaca realitas di sekitarnya. Kita menjadi akrab dengan tren global, tetapi asing terhadap persoalan di lingkungan sendiri.
Barangkali di situlah ironi terbesar kita hari ini: kita tampak semakin berkembang, tetapi belum tentu benar-benar bertumbuh
Internet: Cermin atau Jendela
Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan pengguna internet yang sangat cepat. Perempuan mengambil bagian penting dalam angka itu. Akses, yang dulu menjadi kemewahan, kini hampir menjadi keniscayaan.
Tetapi akses tidak selalu berbanding lurus dengan pemanfaatan.
Internet bisa menjadi cermin, memantulkan kembali apa yang ingin kita lihat tentang diri kita sendiri. Tetapi ia juga bisa menjadi jendelaâ€"membuka pandangan pada dunia yang lebih luas, lebih kompleks, dan sering kali menantang.
Persoalannya sederhana, namun menentukan: kita memilih yang mana?
Di satu sisi, kita memiliki peluang untuk belajar dari siapa saja, dari mana saja, tentang apa saja. Di sisi lain, kita juga dihadapkan pada godaan untuk berhenti pada yang dangkal, yang cepat, yang tidak menuntut usaha berpikir.
Tidak ada yang memaksa kita untuk tidak belajar. Justru sebaliknya, tidak ada yang memaksa kita untuk belajar.
Dan di situlah letak tanggung jawab itu menjadi sangat personal.
Belajar sebagai Sikap Hidup
Ada satu keyakinan yang layak kita rawat di tengah zaman yang serba instan ini: bahwa belajar bukan aktivitas sesaat, melainkan sikap hidup.
Belajar tidak selalu berarti duduk di ruang kelas atau mengejar gelar akademik. Ia bisa hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana, dan justru lebih jujur. Dalam keberanian untuk bertanya. Dalam kesediaan untuk mendengar. Dalam kerelaan untuk mengakui bahwa kita belum tahu.
Perempuan, sepanjang sejarah, telah menunjukkan daya lenting yang luar biasa. Mereka belajar dalam keterbatasan, bertahan dalam tekanan, dan menemukan cara di tengah sempitnya ruang.
Namun hari ini, ketika ruang itu telah terbuka lebih lebar, pertanyaannya berubah: apakah kita akan sekadar bertahan, atau mulai benar-benar bertumbuh?
Perempuan yang memilih untuk memahami isu-isu yang memengaruhi hidupnya, yang memperluas wawasan di luar lingkaran kenyamanan, yang tidak berhenti pada apa yang viral, mereka sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar memperbaiki penampilan.
Mereka sedang membangun kapasitas.
Lebih dari Sekadar Terlihat
Dalam dunia yang semakin bising oleh citra, menjadi terlihat sering kali dianggap cukup. Padahal, yang menentukan arah hidup seseorang bukanlah seberapa sering ia dilihat, melainkan seberapa dalam ia memahami.
Kita tidak perlu mempertentangkan kecantikan dan kecerdasan. Keduanya bisa berjalan beriringan. Tetapi tanpa kedalaman berpikir, segala yang tampak di luar akan mudah goyah.
Pada akhirnya, yang tersisa bukanlah bagaimana seseorang dipandang, melainkan apa yang ia bawa, dalam pikirannya, dalam sikapnya, dalam kontribusinya.
Mungkin, jika Kartini hidup hari ini, ia tidak lagi bertanya apakah perempuan bisa mengakses pendidikan. Ia akan mengajukan pertanyaan yang lebih sunyi, tetapi jauh lebih tajam: dengan segala kemudahan yang ada, mengapa kita masih ragu untuk belajar?
Kecantikan bisa menarik perhatian. Tetapi pengetahuan memberi arah. Karakter memberi pijakan. Dan keberanian untuk terus belajar, itulah yang memberi makna.
Di situlah glow up menemukan bentuknya yang paling utuh: bukan hanya perubahan yang terlihat, tetapi pertumbuhan yang terasa.
Selamat Hari Kartini.
Mari menjadi lebih dari sekadar tampak.