Prolog
Ada benda-benda kecil yang diam-diam
menyimpan kekuatan besar. Sebutir benih sesawi, kata Tuhan Yesus, adalah yang
terkecil dari segala benih, tetapi apabila ditaburkan ia tumbuh menjadi pohon
yang cabangnya menaungi burung-burung di udara (Markus 4:30β"32). Selembar uang
sepuluh ribu rupiah pun demikian. Di tangan seorang diri hanya secangkir kopi
di lapo tepi jalan, seporsi kecil sarapan, atau ongkos angkot yang segera
terlupa. Namun ketika jutaan lembar itu dihimpun oleh satu iman, satu
kerinduan, dan satu tujuan, ia dapat berubah menjadi dinding, atap, ruang
bersalin, meja operasi, dan lampu yang tetap menyala di tengah malam bagi orang
sakit di tepian Danau Toba.
Tulisan ini adalah sebagai undangan, bukan
tuntutan. Mengajak setiap warga HKBP, di mana pun kini berdiam, dari Pearaja
hingga Jakarta, dari Batam hingga Frankfurt, dari Kuala Lumpur hingga
California, untuk sejenak menoleh ke Balige, ke sebuah rumah sakit tua yang
lahir dari kasih para pendahulu, dan yang kini menanti uluran tangan
anak-anaknya untuk bangkit kembali.
Balige dan Rumah Penyembuhan di Tepian Danau
β
Balige: Kota di Pelukan Toba
Balige terbentang di tepi selatan Danau Toba,
di antara hamparan sawah yang hijau dan perbukitan yang biru. Kini adalah ibu
kota Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara, dengan wilayah sekitar 91
kilometer persegi yang terbagi atas puluhan desa dan kelurahan. Sejak lama
Balige dikenal sebagai simpul perdagangan orang Toba, onan (pasar)
Balige menjadi tempat bertemunya hasil bumi dari lembah, bukit, dan pulau,
sekaligus ruang perjumpaan antarmarga. Tanah ini juga menyimpan ingatan
kepahlawanan: makam Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII berada di wilayah
Balige, dan dari kota inilah lahir sejumlah putra bangsa yang turut mewarnai
sejarah Indonesia.
Wajah Balige tidak dapat dipisahkan dari
kisah Injil di Tanah Batak. Ludwig Ingwer Nommensen tiba di Sumatera pada 1862,
membuka Huta Dame di Lembah Silindung pada 1864, dan kemudian memindahkan pusat
pelayanannya ke Sigumpar, Toba, pada 1890, tidak jauh dari Balige. Bersama para
zendeling Rheinische Missionsgesellschaft (RMG), Nommensen menanam tiga
pilar pelayanan yang saling menopang yakni gereja, sekolah, dan pelayanan
kesehatan. Ketika Nommensen berpulang pada 23 Mei 1918, gereja yang dirintisnya
telah berjumlah sekitar 180.000 anggota dalam kurang lebih 500 jemaat. Benih
yang ditaburnya telah menjadi hutan.
β
RS HKBP Balige: Lahir di Tahun Sang Rasul Berpulang
Sejarah RS HKBP Balige berakar pada sebuah
derita. Pada 1909 wabah disentri melanda Tanah Batak dan menyingkapkan betapa
rapuhnya masyarakat tanpa fasilitas kesehatan yang memadai. Dari keprihatinan
itu, pada 1918 diresmikanlah sebuah Isolir Barake di Balige, rumah sakit
pembantu yang hanya mampu menampung sepuluh orang pasien, di bawah pimpinan
K.H. Weissenbruch. Ada sebuah kebetulan yang terasa seperti penyelenggaraan Ilahi,
pada tahun yang sama ketika sang Apostel Batak menutup mata di Sigumpar, sebuah
rumah penyembuhan dibuka di Balige. Seolah-olah Tuhan hendak berkata bahwa
pekerjaan kasih tidak ikut dikuburkan bersama para perintisnya.
Perjalanan rumah sakit ini tidak selalu
tenang. Pada masa pendudukan Jepang (1941β"1945) diambil alih dan dijadikan
rumah sakit militer. Sesudah perang, utusan HKBP pada 1948 memperjuangkan
pengembalian aset zending, keputusan pengembalian kepada HKBP ditetapkan pada 1
Oktober 1949, dan penyerahan resmi oleh Pemerintah Republik Indonesia
berlangsung pada 1 Januari 1956. Pada 19 Mei 2009 dibentuk Yayasan Kesehatan
HKBP dan nama rumah sakit menjadi RS Umum HKBP Balige, pada 2017 rumah sakit
ini untuk pertama kalinya lulus akreditasi penuh. Pada 2022, di bawah
kepemimpinan Ephorus Pdt. Dr. Robinson Butarbutar, diresmikan gedung
hemodialisa berkapasitas 25 tempat tidur, disertai cita-cita menjadikan RS HKBP
Balige rumah sakit rujukan bagi Tapanuli Raya.
Lebih dari satu abad kemudian, rumah sakit
ini berdiri sebagai saksi yang telah menyambut ribuan kelahiran, merawat luka,merawat
berbagai penyakit dan mengantar banyak orang pulang dengan sehat. Namun usia
juga meninggalkan jejaknya. Bangunan menua, teknologi kedokteran melaju, dan
tuntutan mutu layanan terus meningkat. Rumah yang dahulu dibangun oleh kasih
kini memanggil kasih untuk membangunnya kembali.
Gerakan Sepuluh Ribu: Sebuah Panggilan
Dalam semangat itulah Ephorus HKBP Pdt.DR.Viktor Tinambunan,MST mencanangkan Gerakan Sepuluh Ribu,
sebuah gerakan penggalangan dana untuk revitalisasi RS HKBP Balige yang
membutuhkan biaya hampir dua ratus miliar rupiah. Gerakan ini ditujukan
terutama kepada jemaat HKBP di seluruh dunia, kepada mereka yang masih
menjejakkan kaki di Bona Pasogit, dan kepada mereka yang telah merantau ke
kota-kota dan negeri-negeri jauh namun hatinya tetap tertambat di tepian Toba.
Angka dua ratus miliar memang tampak laksana
gunung. Tetapi gunung pun tersusun dari butir-butir pasir. HKBP adalah salah
satu gereja Lutheran terbesar di Asia Tenggara, dengan warga yang berjumlah
jutaan jiwa dan tersebar di berbagai penjuru Nusantara hingga mancanegara.
Sebagai ilustrasi sederhana, dua ratus miliar rupiah dibagi sepuluh ribu rupiah
sama dengan dua puluh juta persembahan. Bila lima juta warga masing-masing
memberi sepuluh ribu rupiah sebanyak empat kali, gunung itu telah terangkat.
Tidak ada satu orang pun yang harus memikul semuanya, setiap orang cukup
memikul sepotong kecil, asalkan semua memikulnya bersama.
Orang tua kita telah lama mengajarkan
kebenaran ini dalam sebuah umpasa: Aek godang tu aek laut, dos ni
roha sibahen na saut. Gerakan Sepuluh Ribu bukan pertama-tama soal jumlah,
melainkan soal dos ni roha, kesatuan hati. Ia merendahkan ambang pintu
partisipasi serendah mungkin, sehingga tidak ada seorang pun yang merasa
terlalu miskin untuk ikut serta, dan tidak ada seorang pun yang merasa terlalu
kaya untuk tidak memulai dari yang kecil.
Dua Peser Janda Miskin
Di halaman Bait Allah di Yerusalem, pada
hari-hari terakhir sebelum salib, Tuhan Yesus duduk berhadapan dengan peti
persembahan dan memperhatikan orang-orang memasukkan uang. Banyak orang kaya
memberi dalam jumlah besar. Lalu datanglah seorang janda miskin. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan
ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya
dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda
miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke
dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi
janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh
nafkahnya." (Markus 12:42β"44, TB; bdk. Lukas 21:1β"4)
Kata peser dalam naskah Yunani merupakan
mata uang tembaga terkecil yang beredar di Palestina pada masa itu. Markus
menjelaskan kepada pembacanya di dunia Romawi bahwa dua lepta setara
dengan satu kodrantes, yakni kira-kira seperenam puluh empat dinar,
sementara satu dinar adalah upah seorang pekerja untuk sehari. Dengan kata
lain, persembahan janda itu hanyalah upah beberapa menit kerja. Di mata
manusia, nilainya nyaris nol. Di mata Tuhan, nilainya melampaui seluruh isi
peti.
Dari kisah singkat ini sekurang-kurangnya tiga
pelajaran dapat dipetik bagi Gerakan Sepuluh Ribu.
β
Pertama,
Tuhan mengukur persembahan dari hati, bukan dari angka. Yesus tidak menghitung
berapa banyak yang dimasukkan, melainkan berapa banyak yang tersisa pada si
pemberi. Ukuran ilahi adalah pengorbanan dan kasih, bukan nominal. Karena itu
sepuluh ribu rupiah dari seorang petani di Laguboti, seorang mahasiswa di
Medan, atau seorang pensiunan guru di Siborongborong sama mulianya dengan
sumbangan besar dari seorang pengusaha di ibu kota.
β
Kedua,
yang kecil tidak pernah sia-sia. Janda itu tidak mungkin tahu bahwa dua keping
tembaganya akan dikenang selama dua ribu tahun dan diwartakan di seluruh dunia.
Demikian pula tidak seorang pun dari kita dapat mengukur berapa jauh gema
sepuluh ribu rupiah yang diberikan dengan tulus, barangkali menjadi sebagian
kecil dari inkubator yang menyelamatkan seorang bayi prematur, atau sebagian
dari lampu operasi yang menerangi tangan seorang dokter pada dini hari.
β
Ketiga,
pemberian yang tulus menuntut pengelolaan yang jujur. Kisah ini juga merupakan
ratapan atas lembaga keagamaan yang dapat menyalahgunakan kesetiaan orang
kecil. Pembacaan ini tidak meniadakan pujian Yesus atas iman sang janda, tetapi
justru menambahkan panggilan bagi para pengelola bahwa setiap rupiah dari umat
harus dijaga dengan transparansi, akuntabilitas, dan rasa takut akan Tuhan.
Kepercayaan jemaat adalah titipan yang kudus.
Rasul Paulus melengkapi teladan itu ketika ia
menggalang persembahan bagi jemaat miskin di Yerusalem. Ia memuji jemaat-jemaat
Makedonia yang "walaupun sangat miskin, namun mereka kaya dalam
kemurahan", dan memberi "menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui
kemampuan mereka" (2 Korintus 8:2β"3). Lalu ia menegaskan asas yang menjadi
jiwa setiap gerakan kasih: Hendaklah masing-masing memberikan menurut
kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah
mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. (2 Korintus 9:7, TB)
Sepuluh Ribu Melahirkan Seribu Makna
Sepuluh ribu rupiah hanyalah selembar kertas.
Namun ketika ia dipersembahkan untuk RS HKBP Balige, ia berubah rupa. Ia
menjadi bahasa kasih yang dapat dibaca dari banyak sisi. Berikut ini sepuluh di
antara seribu maknanya.
β
Makna Pertama: Melestarikan Warisan Rasul Batak I.L.Nommensen
Nommensen dan rekan-rekannya tidak hanya
membawa Injil dalam kata-kata, tetapi juga dalam tangan yang merawat dan
menyembuhkan. Pelayanan kesehatan zending di Tanah Batak adalah bagian utuh
dari pewartaan Kabar Baik, sama pentingnya dengan mimbar dan ruang kelas. RS
HKBP Balige adalah salah satu warisan nyata dari visi itu. Memberi sepuluh ribu
berarti menolak membiarkan warisan itu lapuk dimakan waktu, berarti berkata
kepada generasi para perintis, "Apa yang kalian tanam dengan air mata,
kami rawat dengan sukacita."
β
Makna Kedua: Senyum Sehat Warga Bona Pasogit
Di balik setiap angka dalam laporan keuangan,
tergambar wajah-wajah: seorang ompung yang kembali dapat berjalan ke ladang,
seorang ayah yang pulih dan kembali menafkahi keluarganya, seorang anak yang
sembuh dan kembali berlari ke sekolah. Sepuluh ribu adalah senyum-senyum itu.
Ia adalah kesehatan yang dikembalikan ke rumah-rumah di kampung halaman,
sehingga mereka tidak perlu menempuh berjam-jam perjalanan ke kota besar untuk
mendapatkan pertolongan yang layak.
β
Makna Ketiga: Wujud Kecintaan akan Bona Pasogit
Orang Batak boleh merantau sejauh apa pun,
tetapi Bona Pasogit tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Ia hidup
dalam marga yang disandang, dalam lagu yang dinyanyikan di perantauan, dalam
rindu yang datang setiap kali mendengar nama Toba disebut. Cinta kepada kampung
halaman tidak cukup diungkapkan dengan kenangan dan nostalgia tetapi menemukan bentuknya yang paling jujur dalam
perbuatan. Sepuluh ribu adalah surat cinta yang dikirim pulang, ditulis bukan
dengan tinta, melainkan dengan kepedulian.
β
Makna Keempat: Panggilan Berdiakonia
Gereja dipanggil bukan hanya untuk bersaksi (marturia)
dan bersekutu (koinonia), tetapi juga untuk melayani (diakonia).
Dalam tradisi Kristen awal, diakonia dipahami sebagai tugas pengutusan
untuk menjadi perpanjangan tangan Allah bagi sesama. Tuhan Yesus sendiri
mengidentifikasikan diri-Nya dengan orang yang sakit: "Ketika Aku sakit,
kamu melawat Aku ... segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari
saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku"
(Matius 25:36, 40). Sepuluh ribu adalah jawaban kita atas panggilan itu, adalah
cara kita melawat jiwa-jiwa yang dikasihi Kristus yang terbaring di
bangsal-bangsal rumah sakit di Balige.
β
Makna Kelima: Tangisan Bayi Baru Lahir di Lembah Danau Toba
Tidak ada bunyi yang lebih merdu di ruang
bersalin selain tangisan pertama seorang bayi. Tangisan itu memecah keheningan
yang tegang, meredakan kecemasan seorang ibu, dan menjawab kerinduan panjang
sebuah keluarga, bahkan kerinduan seluruh kerabat dalam ikatan Dalihan Na
Tolu yang menantikan kabar gembira itu. Namun setiap dokter kebidanan tahu
bahwa di balik tangisan yang sehat itu ada rangkaian kesiapan yang panjang:
ruang bersalin yang layak, kamar operasi yang siap setiap saat, darah yang
tersedia, inkubator yang berfungsi, dan tenaga yang terlatih. Ketika semua itu
tidak tersedia di dekat rumah, keheningan bisa berubah menjadi duka. Sepuluh
ribu adalah tangisan bayi baru lahir di lembah Danau Toba, adalah jaminan kecil
bahwa lebih banyak ibu akan pulang membawa buah hatinya dengan selamat.
β
Makna Keenam: Ucapan Syukur kepada Tuhan
Setiap napas yang kita hirup adalah anugerah,
dan setiap kesembuhan yang pernah kita alami adalah kemurahan Tuhan. Pemazmur
bertanya, "Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya
kepadaku?" (Mazmur 116:12). Kita tidak akan pernah mampu membalasnya,
tetapi kita dapat menyatakan syukur dengan meneruskan berkat itu kepada orang
lain. Sepuluh ribu adalah hamauliateon, terima kasih, yang dipersembahkan
kepada Sang Pemberi Hidup melalui tangan orang-orang yang sedang membutuhkan
pertolongan.
β
Makna Ketujuh: Gedung RS HKBP Balige yang Megah dan Ikonik
Sebuah bangunan dapat menjadi khotbah yang
tak bersuara. Bayangkanlah gedung RS HKBP Balige yang baru berdiri anggun di
tepian Danau Toba, memadukan kecanggihan layanan kesehatan modern dengan
keindahan arsitektur yang bersahabat dengan alam dan budaya Batak. Bagi setiap
pelancong yang melintas akan menjadi penanda bagi setiap pasien yang datang, ia
menjadi pelabuhan harapan, dan bagi setiap warga HKBP, akan menjadi monumen
kasih bersama. Di setiap batu bata gedung itu kelak tersimpan kisah jutaan
lembar sepuluh ribu yang dipersembahkan dengan tulus.
β
Makna Kedelapan: Harga Diri Tapanuli Raya
Dalam falsafah Batak, hasangapon
(kehormatan) berdiri sejajar dengan hagabeon (keturunan yang diberkati)
dan hamoraon (kesejahteraan). Kehormatan sebuah masyarakat tidak hanya
diukur dari keberhasilan putra-putrinya di rantau, tetapi juga dari
kemampuannya memelihara kehidupan di kampung halaman sendiri. Rumah sakit
rujukan yang bermutu di Tapanuli Raya adalah pernyataan bahwa masyarakat ini
mampu berdiri di atas kakinya sendiri, mampu merawat warganya dengan martabat,
dan tidak selamanya bergantung pada kota-kota lain. Sepuluh ribu adalah harga
diri Tapanuli Raya yang ditegakkan bersama.
β
Makna Kesembilan: Kerinduan Setiap Warga Bona Pasogit
Sudah lama warga di sekitar Danau Toba
merindukan layanan kesehatan yang lengkap, dekat, dan terjangkau. Kerinduan itu
terucap di ruang tunggu yang penuh sesak, dalam perjalanan malam menuju rumah
sakit di kota yang jauh, dan dalam doa-doa sederhana di rumah-rumah kayu di
lereng bukit. Gerakan Sepuluh Ribu mengubah kerinduan yang lama terpendam
menjadi rencana yang dapat diwujudkan. Setiap lembar yang diberikan adalah
jawaban atas doa seseorang yang mungkin tidak pernah kita kenal.
β
Makna Kesepuluh: Kerelaan dan Sukacita, Bukan Karena
Terpaksa
Akhirnya, sepuluh ribu adalah kerelaan. Ia
tidak lahir dari paksaan, rasa malu, atau tekanan, melainkan dari hati yang
telah lebih dahulu dikasihi Allah. Jumlahnya sengaja dibuat kecil agar tak
seorang pun merasa terbebani, dan agar setiap orang, dari anak Sekolah Minggu
hingga para pensiunan, dapat mengalami sukacita memberi. Sebab "Allah mengasihi
orang yang memberi dengan sukacita" (2 Korintus 9:7). Bila kerelaan itu
menggerakkan seseorang untuk memberi lebih, biarlah itu menjadi luapan
syukurnya, tetapi bila yang ada padanya hanyalah sepuluh ribu, biarlah ia tahu
bahwa di mata Tuhan persembahannya tidak kalah mulia dari dua peser sang janda.
Epilog: Menabur Hari Ini, Menuai Kehidupan
Esok
Seratus tahun lebih yang lalu, para perintis
datang ke Balige tanpa membawa kekayaan. Mereka membawa iman, ketekunan, dan
kasih yang rela berkorban. Dari sebuah barak isolasi berkapasitas sepuluh
tempat tidur, lahirlah rumah sakit yang telah melayani beberapa generasi. Kini
tongkat estafet itu berada di tangan kita. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita
mampu, melainkan apakah kita mau.
Maka marilah kita memberi. Sisihkan sepuluh
ribu dari uang belanja minggu ini, dari uang saku, dari gaji, dari hasil panen.
Ajaklah keluarga, punguan marga, rekan sepelayanan, dan teman di
perantauan untuk turut serta. Salurkanlah melalui kanal resmi yang ditetapkan
oleh Kantor Pusat HKBP, dan mintalah pertanggungjawaban yang terbuka atasnya,
sebab persembahan yang kudus layak dikelola dengan cara yang kudus.
Suatu hari kelak, di sebuah ruang bersalin
yang terang di RS HKBP Balige, seorang bayi akan menangis untuk pertama
kalinya. Ia tidak akan tahu nama kita, dan kita pun mungkin tidak akan pernah
mengenal namanya. Tetapi Tuhan tahu. Dan di dalam tangisan kecil itu, dua peser
yang kita persembahkan hari ini akan bergema sebagai syukur yang tidak
berkesudahan. Haleluyaβ¦β¦